P ara Ustadz, dikala menjelaskan tentang masalah-masalah tak mendasar semacam bagaimana adab (tatacara) makan, minum atau cebok yang baik, maka akan dengan sigap-gamblang mampu menjelaskan sekaligus memberikan contoh menurut Rasul, Sahabat atau para Ulama salafus shalih seraya kemudian tak lupa berkata bahwa ajaran Islam itu lengkap, lugas; mudah dipahami serta diterapkan dan bla bla bla. Akan tetapi, ketika menjelaskan suatu kebaikan yang notabene hal tersebut nyatanya jauh lebih asasi dan esensi, Islam; melalui tokoh-tokohnya tersebut, seringkali tampak lebih suka memilih jalan rumit - memutar dan cenderung menutup-nutupi , bahkan tak jarang memakai bahasa-bahasa yang mutasabihat (tidak jelas), mengada-ada dan tidak apa adanya (qaulan sadida). Aku sendiri, dalam menjalani hidup ini _tentu saja tanpa melepas sepenuhnya busana ke-Islamanku yang sebagian besarnya telah mendaging dan menjadi identitas, setelah berpuluh tahun menggantungkan begitu banyak hal pada pendapat mereka, akh...