The Golden Rule of HUMANITY

Para Ustadz, dikala menjelaskan tentang masalah-masalah tak mendasar semacam bagaimana adab (tatacara) makan, minum atau cebok yang baik, maka akan dengan sigap-gamblang mampu menjelaskan sekaligus memberikan contoh menurut Rasul, Sahabat atau para Ulama salafus shalih seraya kemudian tak lupa berkata bahwa ajaran Islam itu lengkap, lugas; mudah dipahami serta diterapkan dan bla bla bla.

Akan tetapi, ketika menjelaskan suatu kebaikan yang notabene hal tersebut nyatanya jauh lebih asasi dan esensi, Islam; melalui tokoh-tokohnya tersebut, seringkali tampak lebih suka memilih jalan rumit - memutar dan cenderung menutup-nutupi, bahkan tak jarang memakai bahasa-bahasa yang mutasabihat (tidak jelas), mengada-ada dan tidak apa adanya (qaulan sadida).

Aku sendiri,
dalam menjalani hidup ini _tentu saja tanpa melepas sepenuhnya busana ke-Islamanku yang sebagian besarnya telah mendaging dan menjadi identitas, setelah berpuluh tahun menggantungkan begitu banyak hal pada pendapat mereka, akhirnya memilih untuk lebih percaya hanya kepada satu bahasa sederhana saja, yakni Kemanusiaan.
 

Kemanusiaan adalah bahasa lintas-batas yang sejujurnya dengan mudah akan mampu dipahami oleh setiap manusia yang berfikiran waras _terlepas dari apapun basis keyakinannya, oleh karena teori serta nilainya yang juga sangat sederhana & universal, tiada sekusut argumen & teori-teori kebaikan yang biasa dilontarkan oleh kalangan agamawan.

'Jangan perlakukan orang lain dengan suatu perbuatan yang apabila itu diperlakukan kepadamu, engkau tidak akan menyukainya'.
Inilah kaidah yang sangat sederhana dari sebuah aturan emas kemanusiaan.

Kita tidak perlu harus jago bahasa Arab atau faham teori-teori fiqh yang njlimet hanya untuk sekedar mampu memahami kaidah itu.

Jangan menyakiti jika kamu tidak mau disakiti.
Perang-perang hanya karena kekuasaan yang berakibat pada matinya ribuan manusia juga binatang serta menyebabkan ribuan orang terluka, istri-istri jadi janda & anak-anak jadi yatim, jelas tidak mulia, meskipun itu dilakukan oleh Sahabat-sahabat Nabi sendiri.

*

Saya setuju,
kecakapan-kecakapan semacam penguasaan bahasa dan tetek bengeknya itu penting. Sangat penting malah. Tapi juga patut disadari bahwa hal itu hanyalah aksesori, bukan primari.
Banyak begawan ISIS yang menguasainya, toh mereka tetap begitu juga. Pun juga, kita tidak boleh lupa dengan fakta bahwa banyak orang yang piawai dengan hal-hal tersebut (Qur'an-Hadits-tafsir-bahasa Arab) tetapi akhirnya malah memilih menjadi liberal.

Percuma saja menurutku, kita khatam ribuan kitab, jago bahasa Arab, dan hafal ratusan / ribuan teori fiqh jika nurani dasar kita tetap mati, tidak mampu memahami satu hal yang sedemikian sederhananya;
saya ambil contoh perbudakan misalnya.

Bahwa perbudakan [yang menempatkan sesama manusia sebagai obyek penindasan] itu salah.
Adalah hal yang "ekstra luarbiasa" gila andai kita sampai membenarkannya terlebih dengan menggunakan akrobatik logika yang berbelit-belit (Apologetics) atau sekalipun cuma sebatas menganggap bahwa tidak ada masalah sama sekali dengan praktik tersebut.

'Jangan memperbudak manusia lain! Karena kita tidak akan suka jika diperlakukan begitu'.

Tidakkah menggelikan,
jika dibanyak kesempatan kita
dengan mudahnya mengatakan 'Islam itu agama yang mudah/lugas' lalu diwaktu yang lain (utamanya saat membahas peristiwa-peristiwa kesejarahan) untuk memahami Islam kita diharuskan jago bahasa Arab terlebih dahulu, berguru pada ulama yang 'benar', faham Qur'an per frasa/bahkan per huruf, khatam ribuan kitab hadits & sirah, memahami berbagai tafsir para ulama serta menguasai ratusan kaidah fiqh? Yang intinya kita dilarang memakai otak-logika sendiri yang murni dari Ilahi, hingga pada klimaksnya berani mengatakan bahwa ke-Kristenan ataupun Budhisme itu salah hanya dengan bermodalkan satu-dua klaim yang berasal dari keyakinan kita ?

Sahabat, 

Bukankah para bijakpun berkata bahwa sejatinya kebaikan itu sederhana, lalu kenapa kita malah membuatnya menjadi rumit berbelit?
Menyantuni yatim serta piatu, menghargai sesama manusia tanpa memandang ras / agama, berkasih sayang bahkan terhadap binatang sekalipun, bersedekah dalam kelapangan itu sebenarnya sederhana. Semua menjadi rumit manakala kita menjadikan ego eksklusif sebagai panduan dalam menjalani kehidupan.
Kebaikan sejati seharusnya tak perlu terkungkung hanya dalam norma, bangsa, agama ataupun tradisi.

Ia itu bersumber dari nurani, lalu terbang & bisa datang dari manapun. Seperti sabda Gita, saat kita mendaki gunung, tak masalah kita memulai dari manasaja, sebab saat sampai dipuncak, toh pemandangan indah yang didapat akan tetap sama.

*
Rasulullah menasehatkan, Kebaikan adalah segala yang menenangkanmu, dan mengasihi sesama tanpa melihat perbedaan yang ada itu menenangkan, menyenangkan. Namun melalui ulama, seringkali kita malah bangga membuat sekat-sekatnya. Salahsatunya dengan penggunaan agama-agama yang mendifinisikan makna kebaikan secara berbeda-beda.
Dalam Kemanusiaan, hal semacam ini tak bisa dipahami
. Sebab sebagaimana pernah disampaikan oleh Moeslim Abdurrahman; "Bahwa kemanusiaan itu hakikatnya satu seperti halnya lapar. Sungguh tidak ada lapar secara Islam, sebagaimana tidak ada lapar secara Kristen".
~
[hanya seorang hamba duafa yang sedang berkelana].

Postingan populer dari blog ini

FROM THE RIVER TO THE SEA, PALESTINE WILL BE FREE.

A G A M A ; dengan TANDA TANYA

WARISAN SEDERHANA