FROM THE RIVER TO THE SEA, PALESTINE WILL BE FREE.
Here we go…
________________________
1. Melihat konflik Timur Tengah, menurutku tidaklah sesederhana seperti ketika kita melihat penderitaan warga Gaza atas kekejaman Israel, sebab yang terjadi disana adalah salah satu konflik paling klasik, kompleks dan multi kepentingan. Sebuah konflik yang ditenagai oleh isu politik, faktor ekonomi serta sentimen agama yang sedemikian ruwet.
2. Orang Yahudi mengklaim bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan. Sehingganya mereka percaya siapapun yang memusuhinya akan (harus) menderita.
3. Mayoritas Muslim, termasuk diriku telah diajari membenci Yahudi sejak bocah. Bahwa yahudi itu jahat dan kelak diakhir zaman (dibantu oleh pohon dan batu yang mampu berbicara) umat Islam akan membunuhi mereka.
4. Zionis Israel itu biadab, ini adalah fakta tak terbantah. Tetapi di wilayah gurun pasir panas yang disebut Timur Tengah tersebut mereka bukanlah satu-satunya aktor dan bukan pelaku utama dengan korban paling besar. Ada konflik sekte di Iraq, perang sipil di Yaman dan Lebanon serta yang belum juga reda yakni perang di Syiria yang level brutalitasnya tak kalah dengan konflik di Gaza. Apabila ditotal, korban meninggal dari empat front itu malah jauh lebih tinggi, yakni hampir mencapai 1,5 juta nyawa manusia dan jutaan lainnya terlantar sebagai pengungsi.
5. Kebanyakan masyarakat Indonesia baik yang mendukung Palestine ataupun yang pro Israel _konon_ peduli konflik disana atas alasan kemanusiaan. Tetapi bukan, kepedulian tersebut sebenarnya hanya didasari oleh bias politik dan sentimen/kebencian agama saja. Aku berkeyakinan, seandainya Palestine dan Israel itu bukanlah Muslim dan Yahudi; (yang dimuliakan oleh sebagian kalangan Kristen), maka tak banyak lagi yang akan peduli.
6. Keyakinan nomer 5 dibuktikan dengan banyaknya tokoh agama/masyarakat kita yang begitu antusias dengan konflik di Gaza/Palestine tetapi abai dengan brutalnya konflik di Afrika, juga ganasnya perang Rusia di Ukraine yang korbannya saat ini telah mendekati satu juta jiwa (hanya dalam waktu kurang dari empat tahun), jutaan manusia mengungsi dan puluhan kota hancur lebur.
7. Malah, dalam perang Ukraine mayoritas netizen kita mendukung Rusia hanya karena pemimpin Ukraine adalah seorang Yahudi yang didukung Barat. Kenyataannya, Rusia tak berbeda dengan AS. Telah umum diketahui; Afghanistan, Chechnya, Dagestan & Syiria adalah beberapa negara muslim yang pernah diporakporandakan oleh Rusia.
8. Israel saat ini dikepung oleh musuh-musuh yang kuat, pemberani dan ganas dari empat penjuru angin. Ada Hamas di barat, Hezbollah di utara dan Houthi di selatan yang ketiganya disokong oleh Iran; sebuah negara yang sedang bergerak menjadi negara berkekuatan nuklir yang terletak disebelah timur.
9. Bagi Israel ini adalah masalah eksistensial (soal kelangsungan hidup mereka) sebab ancaman untuk memusnahkan dan menghapus Israel dari peta telah disuarakan oleh Pemimpin tertinggi (Ayatollah), presiden, petinggi militer dan parlemen Iran. Dan dalam mensikapi situasi demikian, konon doktrin Israel mengharuskan untuk bertindak berkali lipat lebih ganas daripada musuh-musuhnya. Sehingganya, sumpah serapah dan kutukan tidak akan berdampak apapun.
10. Beberapa pihak di dunia Arab meyakini, serangan Hamas yang sistematis dan brutal ke Israel pada 7 Oktober 2023 adalah upaya untuk menggagalkan proses normalisasi Arab dan Israel yang beberapa waktu sebelumnya disinggung Netanyahu di PBB. Bagi Israel sendiri, sepanjang sejarahnya belum pernah mereka menerima pukulan yang sekeras seperti pada 7 Oktober itu, ketika kerusakan masif dan ribuan korban bergelimpangan hanya dalam sehari serangan Hamas. Dalam beberapa opini, alih-alih untuk memerdekakan Palestine, banyak yang percaya serangan tersebut memang sengaja di desain oleh Iran; ditujukan untuk membuat Israel ngamuk segila-gilanya di Gaza dan pada akhirnya melenakan perhatian internasional terhadap program (senjata) nuklir mereka yang sedang mendekati fase final.
11. Bangsa Arab pernah melakukan usaha untuk memusnahkan Israel, tetapi akhirnya realitas memaksa mereka untuk berdamai.
12. Selama berpuluh tahun, Saudi Arabia & Iran itu bermusuhan (satru). Baru pada 2023 yang lalu kedua negara kembali berdamai (normalisasi). Itupun atas usaha mediasi China, negara yang dianggap oleh kebanyakan kita sebagai komunis-kapitalis-aseng. Uniknya, perdamaian antara faksi-faksi Palestine sendiri termasuk Hamas dan Fatah yang sebelumnya sempat saling bunuh, juga terjadi atas prakarsa China, yakni melalui Deklarasi Beijing pada 23 Juli 2024.
13. Ada segolongan umat Islam di Indonesia, (meski bukan kelompok terbesar tapi memiliki narasi cukup kuat) yang meyakini bahwa Iran adalah Syiah dan Syiah bukanlah Islam meski mereka bersyahadat, membaca Qur’an dan juga berhaji ke Mekkah. Kalangan ini bahkan percaya bahwa perang 12 hari antara Israel vs Iran yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan cara Tuhan menghantam sesama orang dzalim (Israel & Iran) langsung dijantung mereka. Informasinya Disini dan Disini.
16. Ada bias di mayoritas media Indonesia terkait konflik di Timur Tengah. Kebanyakan hanya mendukung satu pihak dan aktif memelihara kebencian diantara masyarakat demi rating.
17. Negara donatur dana kemanusiaan terbesar untuk rakyat Palestine bukanlah Rusia atau Arab Saudi, tetapi Amerika Serikat. Sumber
18. Kompromi adalah solusi. Pada kenyataannya Bangsa Arab+Iran tidak bisa memusnahkan Israel dan begitupun sebaliknya. Ini artinya semua pihak yang terlibat harus saling mundur selangkah. Berhenti berperang dan membenci, lalu secara sukarela mengorbankan sedikit hak serta beberapa kepentingan mereka demi mencapai kemajuan kearah perdamaian.
20. Bangsa Arab saat ini telah lelah berkonflik dan mereka memimpikan perdamaian. (walau) Meski untuk mencapai tujuan itu, mereka harus mengorbankan Palestine (wabil khusus Gaza). Poin ini bukan asbun, tetapi berdasarkan pernyataan Aimen Dean (Aiman Diin) yang beberapa waktu lalu cuitannya sempat viral di X (Twitter). Aiman sendiri yang dikenal sebagai Abu Abbas al Bahraini adalah tokoh Bahrain kelahiran Saudi; seorang hafiz Qur’an dan mujahid yang pernah berjiihad di Afghanistan serta Bosnia. Juga sempat selama beberapa tahun menjadi anggota inti Al-Qaeda sebelum akhirnya direkrut oleh Dinas Intelijen Inggris M-16.
KISAH DUA KOTA PALESTINA.
------------------------------------------
Beberapa orang marah ketika saya menyatakan sebelumnya bahwa kami, sebagai orang-orang Arab Teluk, tidak lagi ingin menghancurkan negara dan masa depan kami demi tujuan yang selama 70 tahun tidak menghasilkan apa-apa selain terorisme, tuduhan pengkhianatan, dan aliansi dengan musuh-musuh kami.
Saat kami mengatakan: "Kami ingin hidup damai" kami dicap sebagai Zionis. Oleh siapa? Oleh orang-orang yang duduk dengan nyaman di Malaysia, Pakistan, Indonesia, dan di Barat - sambil menyeruput latte dan berkicau di Twitter dari rumah mereka yang aman - menuntut kami untuk berjuang dan mati demi solidaritas versi mereka.
------------------------------------------
Jadi, izinkan saya menunjukkan dua kenyataan.
~ Video pertama diambil dari Gaza, April 2025 - 18 bulan setelah perang yang tidak perlu terjadi. Tidak ada provokasi Israel sebelumnya, tidak ada kampanye pengeboman, tidak ada invasi yang mengarah ke 7 Oktober 2023. Keadaan membaik. Israel mengeluarkan 22.000 izin kerja harian untuk warga Gaza (yang bekerja di Israel), dan negosiasi damai sedang berlangsung - dengan mediasi Saudi - untuk memperbaiki kondisi Gaza dengan imbalan moderasi. Kemudian Hamas, yang bertindak atas nama Iran, meledakkan semuanya. 7 Oktober 2023 bukanlah perlawanan. Itu sabotase. Pembantaian yang sama sekali tidak perlu - bukan untuk pembebasan Palestina, tetapi untuk menggagalkan normalisasi Saudi-Israel dan perdamaian regional. Itu adalah agenda Teheran, yang dibayar dengan darah orang Palestina.
~ Video (bagian) kedua dari Ramallah, ibu kota Palestina, juga pada bulan April 2025 - pembukaan ICON Mall, Musik, Tarian, Toko-toko mewah, dan mobil-mobil BMW berdatangan. Warga Palestina berpesta seolah-olah Gaza berada di benua lain. Tidak ada kemarahan. Tidak ada duka cita. Hanya belanja mewah dan swafoto. Jika mereka, sesama warga Palestina saja, tidak berdiri di reruntuhan Gaza, mengapa kami diminta untuk berdiri di sana ??
------------------------------------------
Mari kita perjelas juga: Gaza telah "bebas" sejak 2005.
Pengepungan? Itu dimulai pada 2007, setelah Hamas mengambil alih kekuasaan (di Gaza) dengan membunuh 300 warga Palestina (termasuk Polisi PA) dan melemparkan mereka dari atap rumah. Sejak saat itu, Israel masih memberikan izin kerja.
Di sisi lain, Mesir tetap menutup perbatasan Rafah sepenuhnya. Bahkan selama hari-hari terburuk perang, Mesir tidak mau membukanya – (kecuali) hanya untuk bantuan, tidak untuk pengungsi. Tidak ada satu pun izin kerja (dari Mesir). Tidak ada.
Jika Gaza benar-benar penjara, mengapa Hamas tidak menerobos melalui Mesir? Mengapa selalu ke arah Israel? Karena Mesir akan menembak mati mereka secara langsung - bukannya berunding.
Namun, Anda toh tidak akan melihat para “aktivis” online yang menyalahkan Kairo. Karena selalu lebih mudah untuk menyalahkan negara-negara Teluk (Arab) sebagai penghianat.
------------------------------------------
Jadi tidak - kami tidak akan bergabung dengan kultus kematian Anda. Kami tidak akan mati demi tujuan anda sementara Ramallah Palestina menari dan Kairo mengunci gerbang.
Dan kepada semua suara yang merasa nyaman dan merasa benar sendiri yang meneriakkan "solidaritas": Pergilah dan matilah di Gaza sendiri jika Anda peduli.
Jangan menguliahi kami dari tempat yang aman.
Jangan menuntut pengorbanan dari kami sementara Anda cuman koar-koar dengan tagar di media sosial.
Jika warga Ramallah saja tidak peduli - jika saudara-saudara Palestina mereka sendiri - bisa menari di hari yang sama ketika saudarannya yg lain meninggal - kenapa kami harus peduli?
Jangan bicara sedih tentang kesalehan. Kami sudah melihatnya. Tujuan perang mereka sudah lama dibajak oleh para Ayatollah di Teheran - dan kami sudah selesai dengan delusi orang lain semacam ini.
