A G A M A ; dengan TANDA TANYA
1 ~ Kutip, Hadits Sunan Abu Dawud, No. 4348,
”Disampaikan oleh Abdullah Ibn Abbas: Seorang pria buta punya budak wanita yang
sedang mengandung (bayi pria buta itu sendiri) & budak ini suka
mengolok-olok Rasulullah. Ia melarang budak ini tapi budaknya tidak mau berhenti.
Ia memarahinya, tapi budak itu tetap tidak meninggalkan tabiatnya. Suatu malam,
budak itu mulai mencemooh Rasulullah & menghinanya. Lalu pria itu mengambil
sebuah pisau, menempelkannya di perut budak itu, menusuk & membunuhnya.
Janin-nya keluar diantara kakinya dengan berlumuran darah. Pagi harinya, Nabi
diberitahu tentang hal ini & beliau berkata: jadilah saksi, tidak ada
pembalasan yang perlu dibayar bagi darahnya”.
Kisah-kisah serupa ini (eliminasi terhadap musuh-musuh intelektual Nabi dengan cara
'sangat keras' & _maaf, tidak ksatria) juga terdapat dalam beberapa riwayat
lain seperti peristiwa pembunuhan Ka'ab ibn al Asraf dan Sallam bin Al-Huqaiq, eksekusi si kakek tua yahudi; Abu
Afak serta pembunuhan Asma bint Marwan, seorang wanita yahudi - penyair yang dihabisi saat sedang tidur sembari menyusui anaknya.
2 ~ Kisah balas dendam Bilal.
Disarikan dari Hadits Bukhari No. 2137,
bahwa saat kalah dalam perang Badr, pemuka Qurays; Umayyah bin Khalf &
putranya; Ali bin Umayyah, menyerah & jatuh dalam penguasaan sahabat Nabi, Abdurrahman
bin Auf (salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, langsung melalui lisan Rasulullah). Sayangnya hal demikian tidak dikehendaki oleh Bilal bin Rabah (bekas
budak Umayah yang sewaktu di Mekah pernah disiksa oleh Umayyah dengan sangat kejam).
"Aku tak selamat kalau dia selamat!" Teriak Bilal sambil memanggil
beberapa orang dari kalangan Anshar, lalu mereka mengeroyok dan membacoki Umayah serta putranya
hingga tewas.
Beberapa kalangan Islam terkesan berusaha menutupi fakta sebenarnya atas kejadian tersebut, dengan mengatakan bahwa Umayyah bin Khalf terbunuh dalam peperangan (bukan ketika ditawan). Salah satunya dalam program "KHASANAH" Trans7 edisi Sabtu 6 April 2013 atau sebagaimana dijelaskan dalam artikel ini. Namun sejarahwan pencatat sirah Nabi pertama seperti Ibn Ishaq-pun juga membenarkan bahwa Umayyah dan Putranya memang di eksekusi dengan cara dicincang setelah berakhirnya perang Badr.
Ibn Ishaq bahkan menyebut sahabat Nabi Abdurrahman bin Auf saking kesalnya sampai menghardik Bilal dengan mengatainya "anak si hitam".
3 ~ Eksekusi masal suku Yahudi Bani Qurayza _tinggal di dekat Madinah.
Diceritakan sesaat paska perang khandaq, kaum muslim dikerahkan untuk mengepung
kampung Bani Qurayza yang didakwa telah mengingkari perjanjian dan berkomplot
membantu diam-diam pasukan gabungan Qurais pada peperangan tersebut.
Setelah pengepungan selama 25 hari, Bani Qurayza akhirnya menyerah dengan harapan
mendapatkan pengampunan mengingat hubungan karib mereka selama ini dengan golongan
Anshar di Madinah [riwayat lain bahkan menyebut kebanyakan alat yang dipakai oleh kaum
muslim untuk membuat parit (khandaq) dipinjam dari suku ini].
Kemudian merekapun dikumpulkan menjadi satu dengan tangan terikat (menurut sumber dari
Kitab Tarikh at-Thabari), Nabi Saw. memberikan mandat soal keputusan final untuk Bani Qurayza tersebut kepada
Sa’ad bin Mu’adz (seorang pemimpin dari salah satu suku di kalangan Anshar yang sebelumnya sempat terluka dalam peperangan Khandaq), meskipun, sejatinya
keputusan tertinggi tetap berada ditangan Nabi. Sementara Ibn Ishaq mengisahkan berbeda; dengan mengatakan bahwa perintah eksekusi tawanan bani Qurayza tersebut turun langsung dari Rasulullah.
Demikianlah, Sa’ad berkata : “Aku putuskan agar lelaki dewasa dibunuh & wanita serta anak-anak mereka dijadikan tawanan”, Maka Beliau (Nabi) berkata: “Sungguh Sa'ad, kamu telah memutuskan hukum kepada mereka dengan hukum Allah” ; Bukhari, hadits nomer: 3520.
Setelah keputusan Sa’ad bin Mu’adz yang disetujui Nabi, beberapa lubang digali di dekat pasar Madinah. Semua laki-laki Banu Qurayza (konon) mulai dari yang telah tumbuh bulu kemaluan dipancung lima-lima di sana oleh Ali, Zubair dan tim algojonya. Jumlahnya antara 600 hingga 700 orang (ada yg berpendapat kurang dari 500 ada juga yg berpendapat sampai 800 orang). Sementara rumah termasuk semua harta benda mereka serta para wanita dan anak-anak dibagi-bagikan di antara kaum Muslim dengan status sebagai jarahan perang. Menurut Ibn Ishaq dalam 'Sirah Nabawiyah'nya, sebagian besar dari tawanan-tawanan wanita Bani Quraizhah ini kemudian dijual ke Najed untuk ditukar dengan kuda-kuda serta peralatan perang.
Rasulullah sendiri mendapat bagian seorang wanita cantik bernama Raihanah yang
suaminya juga termasuk diantara orang yang dipenggal.
Ini sebagaimana dikonfirmasi dalam berbagai hadits sahih.
5 ~ Selain itu juga tentang praktek perbudakan, hukum rajam / mutilasi (bagi pezina & maling) hingga serangan ekspansi besar pasukan Muslim sejak khalifah pertama sampai yang terakhir di zaman Ottoman. Dari Persia, Afrika, India sampai ke Eropa yang pastinya juga menyebabkan bencana kemanusiaan yang luarbiasa.
![]() |
| Algojo-algojo IS bersiap menggorok tawanan perang |
~
Jika demikian, lalu bagaimana?
Diibaratkan sebuah bangunan, fondasi Islam adalah dalil-dalil Qur'an &
Hadits. Ketika Anda berbicara tentang Islam, pendapat anda akan lemah (atau
malah akan dibilang ngawur) jika tidak berhujjah/merujuk kepada dalil-dalil tersebut.
Dan dari beberapa contoh di atas, jelas sekali bahwa apa yang dilakukan ISIS atau
Wahabisme baik secara ideologi maupun tindakan mereka dilapangan (seperti
perbudakan & eksekusi masal tawanan dengan cara penggal) memang mendapat
landasan kuat dari dalil-dalil agama.
Jalanan di Kota Kobani Dipenuhi Mayat-mayat Tanpa Kepala
Tetapi bukankah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi
tersebut seharusnya dilihat dalam konteks waktu dan kondisi sosio-politik saat
itu?
Benar, saya pun setuju. Kurang tepat memang bila
kita menghakimi suatu peristiwa dimasa lalu dengan ukuran / standar moral pada saat ini.
Problemnya, jika kita sepakat dengan pilihan tersebut
adalah, selama ini, disepanjang hidup, bukankah kita senantiasa diajarkan
tentang hukum Islam yang tertulis sempurna sejak awal lampau ia diturunkan,
hingga kini & nanti berlaku abadi, anti revisi yang dikatakan mutlak-benar sempurna; mampu/cocok mengatur umat manusia dari zaman ke zaman.
Maka tidakkah doktrin itu seharusnya menjadi kontra
dengan realitas sejarah ras manusia yang berbeda, berkembang - penuh dinamika &
selalu berimprovisasi seiring masa? Bukankah doktrin 'agama sempurna' itu terbukti sudah tak relevan lagi dengan standar moral jaman
ini?
L a l u . . . ?
Jika itu keliru, lantas bagaimana benarnya?
Astaghfirullah, belumlah
kapasitas hamba untuk menilai benar atau salahnya.
Sejujurnya saya pun juga sedang terus memantapkan kebenaran pada hati ini. Namun yang pasti bagi saya pribadi, agama bukanlah
sesuatu yang sempurna, oleh karna
terbukti ada banyak hal konyol & bahkan
absurd darinya. Agama bukan sesuatu yang maha luarbiasa hingga kita pantas
habis-habisan untuknya.
Pada faktanya, Agama bisa menginspirasi beribu
kebaikan tapi juga bisa menjadi landasan untuk membenarkan berbagai kekejian.
Agama adalah spirit, hadir untuk mewarnai & memaknai hidup ini meski tetap
saja Ia hanyalah apa yang ditafsirkan oleh akal fikir manusia. Sederhananya bagi hamba, Agama hanyalah jalan
(wasilah), sarana untuk mencapai ghayyah (tujuan) akhir kita, yakni Tuhan dan Kebaikan.
~
Insyaallah...
***
Catatan untuk point 4;
Banyak kalangan ahli Muslim saat ini mengatakan bahwa tindakan luarbiasa keras (baca; sadis) yang diterapkan terhadap para begal dari 'Ur tersebut, adalah pembalasan setimpal karena kawanan begal dari 'Ur juga melakukan hal yang serupa itu kepada para penggembala muslim yang mereka bunuh. Tambahan lagi menurut mereka ini adalah bukti betapa indah dan adil sempurnanya hukum Islam.
Tanggapan saya;
1. Saya belum menemukan satupun hadits / sejarahwan Islam awal yang menyatakan bahwa para penggembala muslim itu di congkel mata, dipotong bersilang kaki dan tangannya lalu dijemur hingga mati oleh orang 'Ur tanpa diberi minum padahal mereka meminta. (Bagi yang memiliki data sebaliknya silahkan bagikan dikolom komentar). Semua hadits terkait _sependek yang hamba ketahui_ hanya menyatakan mereka dibunuh dan dirampok. Terkecuali ini adalah upaya pembenaran atau memang hanya narasi-narasi tambahan yang sengaja dibuat untuk menambal kisah sejarah yang bolong/ganjil, secara logika, apakah para begal itu punya waktu untuk menjemur korban mereka mengingat tingginya kadar kejahatan yang telah mereka lakukan? Tidakkah lebih masuk akal jika mereka lekas pergi bersama harta rampokannya setelah membunuh anggota dari kaum Muslim Madinah yang penolong dan telah mereka khianati? Siapa juga yang memberitahu kaum muslim bahwa para penggembala muslim itu dijemur dan meminta minum tapi tidak diberi? Bukankah mereka dibunuh?
Membaca narasi seperti ini saya jadi teringat dengan kisah serangan (ghazwa) kaum Muslim terhadap suku yahudi Bani Al-Mustaliq. Satu pendapat yang banyak dikutip dikalangan muslim menyebut Banu Mustaliq diserang karena mereka merencanakan serangan terhadap kaum Muslim di Madinah sehingganya kaum Muslim memutuskan untuk menyerang lebih dulu. Sumber ini mengatakan kedua pasukan bertemu disebuah telaga (muraisi) dan merekapun bertempur hingga kaum Muslim menang. Namun, ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa kaum Muslim menyerang Bani Al-Mustaliq karena mereka menolak seruan untuk masuk Islam, dengan serangan tiba-tiba pada saat anggota suku Al-Mustaliq sedang menggembala didekat sebuah telaga/oase. Dan sayangnya, pendapat kedua ini dikuatkan oleh hadits sahih dari Bukhari dan Muslim yang memang menyebutnya sebagai serangan tiba-tiba, yang mana dalam serbuan mendadak ini kaum Muslim memperoleh ratusan tawanan termasuk wanita dan anak-anak serta ribuan binatang ternak. Sejarahwan Al-Waqidi bahkan mencatat atas peristiwa ini kaum Muslim mendapatkan lebih dari 2000-an ekor unta dan kambing.
Rujuk hadits Muslim nomor 3260 bab Kitab Jihad dan Ekspedisi.
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi telah menceritakan kepada kami Sulaim bin Ahdlar dari Ibnu 'Aun dia berkata, "Aku pernah mengirim surat kepada Nafi' dan bertanya perihal pernyataan perang sebelum perang di mulai." Ibnu 'Aun melanjutkan, "Lalu Nafi' membalas suratku, tulisnya, 'Hal itu pernah terjadi pada permulaan Islam, suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyerang Bani Musthaliq secara mendadak disaat mereka sedang lengah, yaitu ketika mereka sedang memberi minum ternak mereka. Kemudian terjadilah perang hingga mereka banyak yang terbunuh dan tertawan, dan pada hari itulah Juwairiyah binti Harits tertawan'." Yahya berkata, "Aku kira dia mengatakan, 'Juwairiyah' atau, 'anak gadisnya Al Harits'. Hadits ini disampaikan kepadaku oleh Abdullah bin Umar, saat itu dia termasuk orang yang ikut berperang sebagai prajurit dalam pasukan." Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Ibnu 'Aun dengan isnad seperti ini. Ibnu 'Aun berkata, "Yaitu Juwairiyah binti Al Harits -tanpa ada keraguan-."
Jika dicermati, serangan-serangan dengan tujuan saling mendominasi macam ini sebenarnya adalah
hal biasa dikalangan bangsa Arab saat itu (dan bahkan hingga hari ini). Sehingganya tidak perlu lagi ditutup-tutupi apalagi dibuat pembenarannya. Mengingat kondisi geografi
serta budaya kesukuan (tribalisme) mereka yang keras membuat bangsa Arab
menjadi bangsa pemberani nan keras kepala, susah mengalah dan sulit
berkompromi, terlebih waktu itu belum ada suatu hukum/konsensus yang menyatukan
mereka secara umum, menjadikan cara-cara perang sebagai jalan paling praktis demi
meyelesaikan masalah. Baik untuk alasan wilayah atau hanya sekedar
karena masalah perut.
Ini seperti halnya serangan kaum Muslim ke Kaybar dan Thaif yang sesungguhnya tidak pernah secara agresif memusuhi kaum Muslim. Hingga beberapa tahun sejak kaum Muslim menguat di Madinah dan melakukan banyak penakhlukan, Kaybar dan Thaif adalah dua wilayah yang tetap stabil dalam kehidupan makmur dan damai dibalik benteng-benteng kokoh mereka tanpa banyak ikut campur dengan segala gejolak disekitarnya.
Sampai ketika keduanya dianggap sebagai semacam 'duri' bagi agungnya kekuasaan Negara Islam, maka Kaybar diserang karena mereka yahudi yang menolong suku yahudi Bani Nadlir yang telah dikalahkan dan diusir oleh Rasulullah dari kampungnya. Sementara Thaif terlibat permusuhan dengan kaum Muslim karena benteng mereka menjadi penolong / tempat pengungsian bagi sisa-sisa pasukan Hawazin setelah mereka kalah dalam perang melawan kaum Muslim di Lembah Hunain. Sebagai catatan, suku Hawazin ini menyerang pasukan Muslim sebagai solidaritas mereka kepada kaum Qurays setelah Rasulullah memutuskan untuk menyerang kota Mekkah.
Silahkan diteliti, karena tidak hanya satu-dua hadits yang mencatat bahwa Rasulullah pernah mengirim berbagai unit tempur dalam ekspedisi militer ke wilayah-wilayah yang jauh dari Madinah hanya untuk mendapatkan harta jarahan perang (ghanimah).
Sebagai rujukan awal silahkan cek Sahih Muslim No. 3290
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia berkata; aku bacakan di hadapan Malik; dari Nafi' dari Ibnu Umar dia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengirim suatu pasukan ke negeri Najd, sedangkan aku termasuk dalam pasukan tersebut. Mereka kemudian memperoleh ghanimah berupa unta yang sangat banyak, sehingga masing-masing mereka mendapat bagian dua belas ekor atau sebelas ekor unta, bahkan setiap dari mereka mendapatkan tambahan satu ekor unta."
2. Jika dikatakan eksekusi terhadap para begal dari 'Ur ini adalah bukti betapa indah dan adil-lengkapnya hukum Islam, saya jadi bertanya benarkah ini sebuah hukum atau hanya interpretasi kita yang salah atas sejarah dan firman Tuhan?
Bukankah Qur'an sendiri yang mengatakan bahwa mengampuni itu jauh lebih mulia, tapi kenapa kebanyakan hukum syariat Islam yang telah dipraktekkan dari masa ke masa malah terkesan penuh sesak dengan hawa kekerasan dan semangat balas dendam? Kita boleh mencongkel kalau dicongkel, boleh memotong kalau dipotong, boleh membunuh kalau dibunuh, boleh merampok kalau dirampok, boleh memperbudak kalau terancam diperbudak, dan boleh menyetubuhi tawanan perang karena kalau kita yang kalah kita juga akan diperlakukan demikian...
Sungguh seperti itukah yang diinginkan Tuhan?
Saya sadar, (dan naudzubillah) saya mungkin saja berbuat hal yang sama apabila ada sanak keluarga yang diperlakukan dengan sadis oleh orang lain tanpa haq seperti yang diperbuat para begal dari 'Ur itu. Tapi bukankah saya hanya manusia biasa tak sempurna ber-akhlak seadanya dengan standard pas-pasan yang lengkap dengan sisi baik dan buruknya? Alih-alih melakukan pembunuhan melalui sebuah penyiksaan yang sadis, seorang yang benar-benar berbudi pekerti luhur - penuh kasih dan paling lembut hati serta teladan umat manusia tidakkah semestinya akan memilih mengampuni; memberi hukuman manusiawi atau kalau memang perlu, 'cukup' menghukum mati dengan cepat tanpa menyiksa terlebih dahulu?
Katakanlah
(Muhammad), “Aku (berada) di atas keterangan yang nyata (Al-Qur'an)
dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk
menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya.
Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan
Dia pemberi keputusan yang terbaik.” (Qs 6:57)
Dan bukankah "jika setiap mata harus diganti dengan mata dan gigi harus diganti gigi, akan mengakibatkan dunia kita ini dipenuhi oleh orang-orang yang buta dan ompong?" ~mahatma Gandhi
Penutup;
Saya bukanlah pembenci Nabi Muhammad, saya adalah pecinta dan seorang hamba yang sangat menghormati Beliau sebagai seorang manusia istimewa nan penting. Saking cintanya, dimasa muda tak jarang saya sampai menangis ditengah malam hanya karena kerinduan pada-nya ketika berbagai masalah hidup datang menerjang. Bahkan sampai bermimpi beberapa kali; bersujud di Mekah dengan diterangi seberkas cahaya terang yang saya yakini bahwa itu adalah Muhammad Saw. Saya juga merupakan pengagum berbagai pencapaian Beliau sang manusia biasa dengan prestasi luarbiasa. Salah seorang paling berpengaruh; pembentuk peradaban umat manusia hingga melintasi berabad-abad generasi serta millenium Bumi.
Sehingganya, jujur diri ini sebenarnya sering membisikkan penghiburan; bahwa kisah-kisah mengerikan macam itu sejatinya (semoga) hanyalah hasil karangan atau buah dari tafsir yang salah dari para ahli sejarah. Meski menumbuhkan keyakinan demikian bagi saya selalu menjadi sulit, sebab setiap kali kita mencobanya, maka para ulama malah akan dengan segera mengkonfirmasi bahwa memang seperti itulah yang terjadi.
Untuk pendapat saya yang seutuhnya tentang Rasulullah dapat dibaca disini. Bisa jadi, antar pendapat ada yang saling kontradiksi atau tidak berkenan dihati, itu mungkin sekali dan saya minta maaf. Sebab saya hanya manusia biasa yang miskin ilmu; yang terus berusaha jujur serta sedang berjuang untuk tetap bertahan di atas jalan nurani serta akal budi yang penuh badai dan terjal ini. Afwan, مكنش قصدي


