SURAT TERBUKA UNTUK GURUKU TERCINTA

Dua atau tiga bulan yang lalu dibeberapa group facebook terutama group-group terkait pendidikan ada cukup sering muncul postingan tentang _seolah-olah wacana atau keinginan dari sementara pihak untuk menghidupkan kembali kebijakan yang telah lama dinonaktifkan. Yakni menyangkut nasib siswa/siswi yang tidak berprestasi di sekolah (murid yang nilai akademiknya dibawah standar alias jeblok).

“SETUJUKAH ANDA BILA SISTEM TINGGAL KELAS DIBERLAKUKAN LAGI?”

Demikian inti dari postingan-postingan tersebut, yang seperti bisa diduga, mayoritas komentarnya dipenuhi oleh mereka yang setuju. Beberapa komentar sangat mendukung dan memiliki like cukup banyak coba saya trackback, dan tidak mengejutkan jika mayoritas pemilik akun itu adalah dari kalangan pendidik/para guru.

Kemudian update terbaru mengenai berita ini adalah, pada beberapa hari kemarin menteri pendidikan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., (yang konon menurut pengakuannya atas desakan dewan pendidikan) telah siap membuka jalan bagi diberlakukannya lagi isu tersebut _apabila disepakati_ yang bisa jadi kebijakan dimaksud akan efektif berjalan mulai tahun depan.

 


berita lengkapnya:

***

Baiklah, sebagai seorang yang dahulu alhamdulillah tidak pernah nunggak alias tinggal kelas, tanpa sedikitpun menyangkal berbagai dampak positif dari Sistem Tinggal Kelas yang sudah banyak disampaikan, saya termasuk golongan yang kurang setuju dengan wacana demikian . Karenanya, disini saya mohon ijin menyampaikan beberapa point pendapat. Namun ini akan agak panjang, jadi kepada Guruku tercinta monggo disiapkan dulu camilannya.

So here we go…

  •     Untuk yang pertama (ini alasan pribadi) kenapa saya kurang setuju dengan wacana tersebut adalah karena saya memiliki seorang anak yang di sekolah oleh gurunya digolongkan sebagai ‘anak kategori dengan kecerdasan level bawah’. Meski dia ini enerjik, mudah bersosialisasi, ceria, sehat, rajin sekolah dan tak enggan belajar di rumah, namun tetap saja dia tertakdir harus masuk dalam kategori itu karena memiliki tingkat kecerdasan serta nalar dibawah standar yang ditentukan pihak sekolah.
  •  
    Dwifanza Madana, belum Pintar tapi tetap semangat belajar.

  • Alasan yang kedua, sepengalaman hamba, sistem tinggal kelas tidak pernah efektif. Maksudnya, mereka yang terindikasi/dilabeli “bodoh” sehingga tidak dinaikkan kelasnya, bukannya pintar tapi kebanyakan malah tambah nggak jelas, bagi yang semula bandel jadi semakin nakal, minat belajar kian rendah dan paling memprihatinkan lagi, menjadi anak berkepribadian minder/hilang percaya diri.

  • Meneruskan point 2, sistem tinggal kelas bisa menghancurkan mental/psikologi anak dan hati orang tua. Sering menimbulkan stigma sosial dan Bullying: Siswa yang tinggal kelas kerap mendapat julukan negatif atau menjadi sasaran ejekan dari teman sebayanya. Naudzubillah, andai sampai terjadi kasus begini, tentu saja aturan tersebut menjadi tak lagi manusiawi.
  •  
  • Anak dengan kemampuan akademik yang rendah tidak otomatis bodoh dalam segala hal. Begitupun, anak yang jago dibidang matematika misalnya, belum tentu juga pintar dalam bidang kecerdasan lain seperti interpersonal, musikal, maupun kecerdasan perasaan/emosi.
  •  
  • Penting juga diingat bahwa dalam sejarah umat manusia tak sedikit juga figur/tokoh yang lemah dalam kecerdasan intelektual (calistung) namun mampu meraih pencapaian serta pengaruh luarbiasa dalam kehidupan - bahkan bagi peradaban manusia. Seperti Nabi Muhammad ﷺ misalnya yang menurut jumhur ulama tidak bisa baca, tulis dan berhitung.
  •  
  • Selain beliau, ada banyak nama besar yang mampu mencapai sukses luar biasa dan bermanfaat bagi begitu banyak orang meski sejarah akademiknya (dianggap) jeblok. Berikut ini hanyalah beberapa contohnya;
    1. Albert Einstein
      Fisikawan terbesar abad ke-20 ini terlambat bicara saat kecil dan kesulitan mengikuti pelajaran hafalan di sekolah. Ia bahkan pernah dikeluarkan dari sekolah karena nilai-nilainya yang buruk dan sempat gagal dalam ujian masuk universitas.
    2. Winston Churchill
      Sewaktu sekolah, Perdana Menteri Inggris yang memimpin negaranya memenangi Perang Dunia II ini berada di posisi paling bawah di kelasnya. Ia bahkan gagal naik kelas di tingkat sekolah dasar karena kesulitan membaca dan menulis.
    3. Thomas Alva Edison
      Adalah seorang siswa yang hanya bertahan tiga bulan di sekolah formal. Gurunya menganggap Edison terlalu "bodoh" dan tidak mampu menyerap pelajaran, sehingga ibunya memutuskan untuk mengajarinya sendiri di rumah (home schooling). Yang pada akhirnya setelah dewasa melalui inovasi panjang dan tekad luar biasa ia menemukan lampu pijar yang menerangi peradaban manusia.

  • Di Indonesia ada cukup banyak nama besar yang akhirnya mampu meraih sukses meski semasa sekolah dulu dianggap ‘tidak berprestasi’.  Bob Sadino, Susi Pujiastuti dan Adam Malik adalah beberapa contohnya.
  •  
  • Saya cukup yakin, cerdas atau bodoh bisa jadi adalah bibit serta format yang sudah melekat pada diri seorang anak sejak lahir/sejak sebelum ia bersekolah. Para Guru hanya tinggal memoles dengan ilmu baru dan kreatifitas mereka. Faktanya, lebih banyak anak yang kurang cerdas dan anak berkemampuan akademik dibawah standar ketimbang anak yang berprestasi. Jika lembaga sekolah adalah faktor utama dan penentu bagi intelektualitas seorang anak, seharusnya jumlah anak berprestasi jauh lebih banyak.
  •  
  • Dwifanza Madana: "Saya Siap!".

  • Saya sangat menghargai para guru sebagai figur terhormat dengan pilihan hidup yang mulia, tapi maaf hamba juga harus menyampaikan kenyataan ini; bahwa tidak semua guru itu cerdas, kreatif, memiliki kapasitas, punya idealism dan termotivasi pada pendidikan. Tak sedikit diantara kita yang menjadi guru karena beranggapan itulah satu-satunya jalan paling mungkin untuk mencari makan. 
  •  
  • Dari sudut pandang lain, siswa yang tinggal kelas dapat dibaca sebagai kegagalan pribadi seorang guru dalam mendidik siswanya. Bagi guru yang benar-benar berdedikasi, siswa tinggal kelas bisa menjadi beban moral atau resiko/potensi konflik dengan wali siswa.
  •  
  • Konon setiap anak dilahirkan unik. Artinya, setiap anak itu memiliki sisi negatif dan positifnya masing-masing. 
  •  
  • Anak cerdas ataupun Anak yang kurang berprestasi (dilabeli bodoh) bisa juga dikatakan sebagai sebuah rejeki/takdir. Diusia 45 tahun ini saya telah membuktikannya sendiri. Ada anak berprestasi yang padahal dikeseharian hanya diberi asupan makanan alakadar dan kedua orang tuanya dahulu sewaktu sekolah terkategori ‘tidak berprestasi’. Namun ada juga anak yang padahal sudah dibekali dengan berbagai media pembelajaran, diajari dengan tekun, telaten - penuh kesabaran, diberi asupan makanan serta do’a yang baik dan padahal dulu kedua orangtuanya termasuk yang berprestasi di sekolah (cukup sering rangking 1) namun tetap berkemampuan akademik yang rendah.
  •  
  • Terakhir. Jika nanti kebijakan tinggal kelas memang harus dihidupkan lagi, mungkin bisa dengan filter yang lebih ketat. Misalnya anak yang nilai akademiknya rendah tapi rajin sekolah dan punya minat belajar serta anak yang (meskipun) cerdas tetapi sombong dan (juga) suka membuli bisa tetap dinaikkan namun dengan catatan. Sementara anak yang kurang minat belajar sekaligus buandel suka bikin onar dan apalagi hobi membuli/intimidasi, sebaiknya juga jangan dibuat tinggal kelas. Lah… piye tho kiii… mangsudku, anak jenis itu cocoknya dideportasi saja ke meksiko biar jadi anggota kartel sekalian. Soalnya kalau tinggal kelas tentu kasihan sama wali kelas dan teman-temannya.

Terimakasih telah membaca.

closing:

Dwifanza Madana dan Cita-citanya.


Tulisan ini hanya sekedar opini dari seorang ayah yang gelisah karena di sekolah anaknya dinobatkan oleh gurunya sebagai salah satu anak paling bodoh di kelas dan pernah diancam akan tinggal kelas. Bukan bertujuan menglorifikasi kebahlulan ataupun hendak menyudutkan pihak lain manapun. ~Salam takzim Guru, 11/10/2026.

Postingan populer dari blog ini

FROM THE RIVER TO THE SEA, PALESTINE WILL BE FREE.

AGAMA; Dengan Tanda Tanya (2)