AGAMA; Dengan Tanda Tanya (2)

 
Ilustrasi AI. Diantara kesulitan pribadinya, seorang jama'ah terpaksa bersedekah karena desakan tokoh agama.

AGAMA, menurut banyak ulama hingga filsuf agung seperti Al-ghazali atau Al-farabi merupakan sebuah sarana pencarian kebenaran guna mencapai kedamaian dan kebahagiaan lahir-batin berbekal pedoman hidup, menjaga moralitas dan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, alam, serta sesama, yang pada akhirnya bermuara pada kebahagiaan di dunia dan kelak di akhirat. Yakni suatu wasilah/upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT demi mencapai kebahagiaan hakiki melalui berbagai ritual dan perbuatan-perbuatan baik .

Dan Memang Semestinya Demikianlah Agama.

Memberi damai-kebahagiaan; menjadi obat bagi berbagai penyakit jiwa dan raga serta lebih-lebih lagi jika mungkin; mampu menjadi semacam solusi bagi permasalahan diantara umat; meringankan derita-kesulitan juga meninggikan derajad/kualitas hidupnya.

Tapi bagaimana jika yang terjadi sebaliknya?

Agama yang diharapkan mampu menjadi obat dan solusi tersebut, malah menjadi sumber kesusahan dan rasa takut dikalangan jama’ah. Jika demikian lalu siapa yang pantas disalahkan?

Maaf, melalui tulisan ini hamba bukan hendak menyalahkan pihak manapun apalagi menjadi hakim bagi yang lain. Disini saya hanya ingin mengajak kita merenung dan kembali melihat pada diri sendiri;

Tepatkan cara kita beragama (dan menjalankan organisasi agama)? Siapa yang kita ikut sebenarnya, kaidah agama atau hanya sebatas ego sektoral kita? Lebih jauh lagi sampai dimana level ber-agama kita, telah asyik dengan isi ataukah masih terlalu sibuk masyuk dengan bungkus/kemasan? Kebaikan jiwa dan empati macam apa yang mampu kita raih dari praktik agama yang telah kita jalankan sejauh ini? 

Ah, Admin ini ngomong apa sih, sok tau!

Mana bisa agama kok jadi sumber kesusahan dan rasa takut. Dasar zindiq gemblung!

Sabar bolo. Agama memang bukan sumber keburukan, tetapi cara manusia yang keliru dalam mempraktikkan bahkan bisa menjadikannya sebab bencana; seperti halnya yang pernah dilakukan oleh ISIS. Namun, kali ini saya bukan mau membahas praktik agama yang level bencana itu, tapi hanya sebatas efek penyimpangannya yang sederhana saja; suatu hal baik yang karena keliru dalam praktik ia malah jadi sebuah masalah; sebagai contoh adalah dalam ihwal INFAQ/SEDEKAH.

Dalam Islam, infaq/sedekah itu memang tidak wajib tetapi merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan dan ketika dilakukan maka harus dengan perasaan ikhlas. Jika bersedekah sembari nggrundel-ngedumel maka sia-sialah ibadah tersebut. Sayangnya, terkait hal ini, seringkali masyarakat/umat dihadapkan pada situasi yang sulit. Disatu sisi kebanyakan umat Islam masih dikerubuti oleh bebagai kebutuhan/urusan kehidupan dan bahkan perkara hutang, namun disisi lain mereka harus berhadapkan juga dengan ‘kebijakan’ para pemuka/otoritas agama yang kurang peka _yang dengan gampang menghujani dengan berbagai urunan yang sebenarnya bukan suatu prioritas_ namun diatasnamakan ‘sedekah agama’.

“Sedekah itu harus dipaksa. Harus disebutkan angkanya. Kalau tidak begitu maka setiap program keagamaan enggak akan jalan”. Demikian salah satu ucapan yang pernah saya dengar secara langsung dari salah seorang tokoh agama di desaku. Sebuah pandangan yang ternyata di-amini oleh banyak pemuka lainnya.

Tentu saja, sedekah dalam tataran yang wajar atau pada bidang yang prioritas, maka tentu sangat baik terlebih sejauh yang saya tahu, mayoritas warga kita ini adalah masyarakat yang gemar bersedekah. Tapi bagaimana jika tuntutan sedekah itu datang bertubi-tubi, mengepung bersamaan dari banyak sisi dan dalam hal yang tak terlampau mendesak? Misalnya, merenovasi total sebuah rumah ibadah yang sebenarnya masih layak pakai hanya karena merasa ada dermawan yang akan berinfaq-sedekah; menanggung 20% dari seluruh biaya total pembangunan (80% nya dibebankan pada umat/jama’ah). Atau sedekah/urunan untuk pembangunan sebuah gedung organisasi keagamaan disaat proyek-proyek keagamaan lainnya juga belum kelar.

Kan aneh, gagah-gagahan pada bidang yang bukan esensi kok mengandalkan sedekah (urunan yang maksa). Lebih aneh lagi, agamanya menetapkan A tapi yang dipraktikkan B. Ketua organisasinya bilang C, kenapa yang dijalankan malah D?

 
Ber-empatilah Tuan.
Ketika Anda memutuskan untuk merilis suatu program infaq/sedekah/urunan atau apapun istilahnya, bisa jadi umat/jama’ah yang menjadi objek dari kebijakan Anda saat itu juga sedang menjadi objek dari kebijakan sedekah dari tokoh agama yang lain diwilayah Anda. Karena bahkan, di desa tempat Admin tinggal ini saja dalam satu lingkungan bisa ada beberapa tokoh agama – ulama kiyai yang memiliki faham dan agendanya sendiri namun dengan jama’ah sebagai objek dakwah dan objek sedekah yang beririsan.

Lebih penting perlu sering direnungi; Kita ini beragama dan berorganisasi ikut siapa? Kenapa ringan saja mengubah-ubah hukum Allah tanpa alasan yang haq, berani mewajibkan suatu hal ibadah yang asal hukumnya sunnah tetapi tak banyak menekankan bidang yang lebih utama seperti wajibnya membayar hutang atau menjamin kecukupan nafkah keluarga dengan rejeki yang baik lagi halal.

Tentu saja, ketika berbicara tentang agama, pastinya kita harus berhujjah/mendasarkan omongan kita dengan aturan-aturannya, bukan berdasar poko’e atau ego sektoral semata. Dan sependek tahu saya_ berdasarkan banyak riwayat sahih serta pendapat jumhur ulama masyur, memaksakan sedekah (tanpa alasan yang dibenarkan) jelas sekali tidak sejalan dengan kaidah Islam.  Sehingganya, mari menepi dan tegaskan kembali bahwa sedekah itu sunnah berdasarkan rasa ikhlas sedangkan yang wajib adalah membayar hutang dan menafkahi keluarga (dengan rejeki yang baik). Sedekah tidak harus dipaksa, senyum yang tulus, itupun sudah merupakan sedekah, dan sedekah yang paling mulia adalah sedekah yang dimulai dari saudara terdekat sendiri.

Bahkan orang yang sangat kaya sekalipun tidak boleh dipaksa untuk bersedekah.

Terkecuali atas kondisi yang luarbiasa, orang kaya sekalipun tidak boleh dipaksa untuk bersedekah. Baik memaksanya melalui garis hierarki seperti oleh pemimpin terhadap bawahan atau memaksa dengan cara menyudutkan orang kaya tersebut melalui sebuah forum musyawarah; membuatnya terjebak dalam situasi sulit; malu jika tidak bersedekah dengan jumlah yang lebih besar daripada umat kebanyakan. 

___________________

Wahai Tuan para agamawan, dakwahkanlah sedekah, tapi jangan lupa mengabarkan tentang betapa wajibnya mengamankan kebutuhan dasar keluarga serta membayar hutang. Kuatkan tekad mereka (saudara-saudara kita yang terbelit hutang) atau kalau mungkin bantulah dengan solusi usaha, sehingganya dengan begitu semoga agama ini bisa lebih berwibawa dan umatnya mampu berdaya-guna. Marilah kembali ke khittah; jangan malah membuat agama dan organisasi agama yang kita cintai ini jadi kehilangan arah dan marwah.

Hamba percaya, manakala tupoksi dari agama telah dapat dirasakan ditataran umat secara real, bukan sekedar sebatas dogma-dogma, maka menyesaki masjid setiap jum'at, atau berharap mendapatkan 3 shaf saat subuh, bukan lagi perkara sulit.

Bukankah sangat disayangkan, dahulu kala Karl Marx pernah menyebut bahwa Agama hanyalah candu bagi manusia. Sebatas pelipurlara alias anestesi (bius sementara) dari segala derita duniawi. Agama _kata Marx, hanya pemberi harapan palsu; bukan obat atau solusi yang menyelesaikan akar penyakit/persoalan. Dan kita (kebanyakan umat beragama) hingga hari ini hanya terus berteriak dengan marah, mencela marxisme dan menghujat kritikan tersebut, namun tanpa sadar dalam praktik kehidupan, kita sepertinya malah sedang membenarkan tuduhan-tuduhan mereka. Wallahu’alam.

___________________ 

Mohon ijin ketua, hanya ingin menyampaikan berbaris luapan resah; buah dari pemikiran yang riuh-gelisah. MJ, November 2025. Ditulis oleh Ngademin; pemerhati tanaman hias dan binatang melata, seorang pendukung Newcastle United (NU) sejak 1982.

Postingan populer dari blog ini

FROM THE RIVER TO THE SEA, PALESTINE WILL BE FREE.

SURAT TERBUKA UNTUK GURUKU TERCINTA