SAHABAT UTAMA, ANTARA DOGMA dan REALITA

 

Para Sahabat adalah pribadi-pribadi pilihan yang unggul dalam ilmu-ilmu agama serta politik-kenegaraan. Figur-figur istimewa dibidang kemanusiaan, adab dan kasih; murid-murid terbaik Rasulullah, yakni orang-orang yang bertemu langsung dengan Nabi SAW, beriman kepadanya dan mati dalam keadaan Islam.

Begitulah definisi dari kata "sahabat" menurut ulama besar seperti Ibn Hajar al-Asqalany.

Namun pada kenyataannya, benarkah definisi semacam ini adalah sebuah fakta atau hanya berlaku dilevel doktrinal saja; yakni hanya bagian dari keimanan kita sebagai muslim? Bagaimana jika pada tingkat realitas, kita akan menemukan fakta yang mungkin akan sangat berbeda?

***

Beberapa sahabat sudah ada sejak masa awal munculnya Islam, akan tetapi sejarah mereka sesungguhnya baru benar-benar ditulis pada periode 22 atau 23 tahun kemudian yakni setelah wafatnya Nabi Muhammad. Meski secara lisan kita terbiasa sekali diperdengarkan dengan berbagai kisah dari para Sahabat yang demikian cemerlang-menakjubkan, namun dengan pemikiran terbuka dan netral, merujuk dari berbagai sumber catatan sejarah klasik, kita juga bisa mengetahui bahwa era para sahabat ini sebenarnya tidaklah steril dari yang namanya hawa kebencian, permusuhan dan dendam. Bahkan, sebaran atmosfir konflik yang menyesakkan diantara mereka itu _yang sekian lama terbalut dalam bentuk intrik politik serta ambisi terhadap kekuasaan, pada akhirnya mewujud dalam berbagai peperangan yang mengerikan.
 

Dikisahkan, wafatnya Rasulullah yang (menurut jalur Sunni) tanpa meninggalkan wasiat soal kepemimpinan/suksesi yang jelas, telah menimbulkan kegoncangan yang luar biasa dikalangan kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar). Utamanya dibidang politik-pemerintahan.

Umat Islam terpecah ke dalam 3 kelompok yang masing-masing memiliki pandangan berbeda ihwal 'kepemimpinan umat Islam paska Nabi'. Yaitu kelompok Anshar dibawah pimpinan Sa'ad bin Ubadah yang siap memilih pemimpinnya sendiri, kelompok Ali yang berkumpul dirumah Fatimah, dan kaum Muhajirin yang diwakili Abu Bakr dan Umar yang gencar melakukan gerilya (lobi2) politik terhadap dua kubu pertama. Oleh para sejarahwan, kegaduhan soal pembahasan suksesi kepemimpinan tersebut dicatat dalam epic perdebatan sengit di Saqifah (sebuah teras/kanopi yang biasa digunakan orang-orang Madinah pada waktu itu untuk berdiskusi/ngobrol tentang isu-isu sosial-politik).

Karna situasi yang demikian kacau inilah, akibatnya jenazah Rasulullah baru bisa dimakamkan 3 hari kemudian _yang konon disholatkan oleh masing-masing element umat Islam secara terpisah / bukan oleh seluruh jama'ah kaum muslimin secara bersamaan.

Beberapa ulama menyebut bahwa hal itu bukan tanda adanya perpecahan, tapi merupakan ijtihad para sahabat untuk mendahulukan pemilihan pemimpin umat Islam, yang mana dalam pemahaman mereka suksesi kepemimpinan derajatnya jauh lebih penting dibanding penguburan jenazah; sebab adanya pemimpin (Imam) merupakan jaminan bagi keberlangsungan sistem negara dan dakwah Islam.

Namun jika boleh sedikit kritis, pendapat demikian sebenarnya malah akan meninggalkan beberapa pertanyaan krusial lainnya, seperti "kenapa ijtihad para sahabat harus menyalahi tegasnya perintah-perintah Nabi untk menyegerakan pengurusan jenazah? (terlebih yang meninggal adalah Rasulullah sendiri), kenapa di saqifah bukannya di masjid? Atau apakah pemilihan pemimpin umat Islam tidak bisa ditunda sehari saja setelah memakamkan Rasulullah misalnya, segenting (baca: serapuh) itukah kondisi umat Islam sewaktu wafatnya Nabi? Dll seterusnya.

Faktanya, intrik terus berlanjut dengan ke-engganan Ali untuk berbai'at kepada Abu Bakr, tragedi dimasa khalifah Umar, Utsman dan di era kekhalifahan Ali sendiri, dimana pada masa ini pertikaian diantara umat Islam mencapai puncaknya, ditandai dengan terjadinya perang-perang berskala besar dengan dampak luarbiasa.

 

Perang Riddah, perang Jamal, perang Shiffin, perang Nahrawan, pembantaian Karbala, tragedi Al-Harrah; yakni peristiwa ketika Yazid bin Muawiyyah mengijinkan pasukannya untuk melakukan penjarahan, perkosaan dan pembunuhan selama 3 hari terhadap penduduk Madinah setelah menakhlukkan kota itu melalui pertarungan yang bengis, Pertempuran Ain al-Wardah, pertempuran Khazir, perang Maskin, Perang Hijaz (kisah pengepungan Mekah oleh pasukan Ummayah yang menembaki kota dengan manzanik secara brutal sehingga menghancurkan Kakbah yang berakhir dengan dipenggalnya kepala Sahabat Nabi sekaligus cucu Abu Bakr as Siddiq; Abdullah bin Zubair), hingga perang Zab yang menandai klimaksnya masa dinasti Umayyah di Timur Tengah serta rentetan puluhan pertempuran brutal lainnya yang menghiasi era khalifah dan dinasti-dinasti dalam kepemimpinan Islam mula-mula.

Ini belum termasuk berbagai kejadian-kejadian keji namun kurang dikenal dijaman kekhalifahan Ummayah seperti kegilaan Yazid bin Muawiyah atau eksekusi massal sisa-sisa keluarga Umayyah (termasuk wanita dan anak-anak) oleh pemimpin Abbasiyah pertama; Abdullah as Saffah dengan menggunakan tongkat besi, dan belum juga termasuk dampak/korban dari berbagai konflik eksternal yang ditimbulkan oleh aksi-aksi invasi Kekhalifahan Islam tersebut terhadap bangsa-bangsa lainnya disekitar Arabia; seperti Mesir, Persia atau Eropa.


Tragedi di Karbala, Iraq



Ilustrasi pengepungan benteng/kota dengan ketapel (manzaniq).

Sulit dipungkiri, apabila kita merunut sejarah secara cermat, maka berbagai konflik internal; peristiwa tragis serta kengerian yang terjadi dimasa Tabiin/Tabiut Tabiin tersebut sebenarnya mayoritas berpangkal pada berbagai perselisihan dan tragedi dimasa Khulafaur Rasyidin. Khalifah Abu Bakr, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib sendiri; mereka jugalah yang ikut andil menanam benih perselisihan yang kemudian dipanen oleh generasi setelahnya.

Dalam hal ini, kaum muslim Syi'ah tampaknya mempunyai alur cerita yang jauh lebih jelas dan tegas, misalnya saja tentang perang Riddah. Menurut mereka, perang Riddah ini tidak terjadi semata hanya karena banyak kaum muslimin yang murtad/keluar dari Islam, namun lebih pada alasan politik terkait ketidak setujuan beberapa kalangan Islam dengan penunjukan Abu Bakr sebagai amirul mukminin, sebab dalam keyakinan Syiah, figur sahabat yang paling layak meneruskan kepemimpinan Rasululah adalah Ali bin Abu Thalib, bukannya Abu Bakr as Syidiq. 

Ini termasuk juga tentang kisah tewasnya beberapa sahabat Nabi seperti Ammar bin Yassir dan Abu Dzar al-Ghifari (yang dalam tradisi sejarah Sunni, kita akan kesulitan mendapatkan sumber tegas yang menjelaskan terkait dua kejadian tersebut). 

Sementara jika kita bertanya kepada ulama-ulama Sunni (Ahli sunnah) terkait perselisihan berdarah dikalangan Sahabat Nabi ini, kita malah akan mendapatkan jawaban yang terkesan ditutup-tutupi, atau malah jawaban yang terdengar sangat absurd (tidak masuk akal), yang mana menurut para ulama/sejarahwan Sunni tersebut "Perbedaan dikalangan sahabat adalah hasil ijtihad diantara mereka; yang jika benar pahalanya dua dan jika salah maka pahalanya satu".

Sebagai muslim yang lahir dan dibesarkan dengan cara-cara Sunni, maka inilah yang menjadi inti dari tulisanku.

Kita mahfum, perbedaan pendapat itu lumrah. Tetapi manakala ia telah menimbulkan kerusakan luarbiasa dan merugikan orang lain tanpa dasar yang dibenarkan, artinya hal itu bukan lagi sekedar perbedaan pendapat. Ia adalah kedzaliman. Ada aksi kejahatan yang terjadi. Bukankah menghilangkan bahkan meski satu nyawa-sekalipun, jika tanpa haq itu sama artinya dengan membunuh makhluk hidup secara keseluruhannya?

Misalnya dalam perang jamal dan perang shiffin saja, korban manusia yang  tewas hampir mencapai seratus ribu orang yang bisa diyakini mayoritas adalah kaum muslim juga, belum lagi kalau kita mau menghitung detail-detail lainnya, seperti berapa banyak yang luka/cacat seumur hidup, berapa banyak isteri-isteri yang jadi janda, berapa banyak bocah-bocah yang jadi yatim dan terlantar akibat kematian bapaknya, juga berapa banyak kuda dan unta yang mati sia-sia !?!

Lalu bagaimana bisa hal sedemikian buruk dikatakan sebagai sebuah ijtihad yang jika salah masih mendapatkan satu pahala??

***

Memang benar, ada sementara pihak yang berkata bahwa segala kekacauan dan konflik di kalangan kaum Muslim sejak zaman para sahabat tersebut adalah ulah (adudomba) kaum Yahudi. Namun narasi versi ini akan menjadi lemah apabila kita komparasikan setidaknya dengan empat alasan :

1. Kuatnya posisi/kedudukan kaum Muslimin waktu itu baik dari segi politik dan militer serta lemah/tertindasnya sisa-sisa Yahudi di jazirah Arab.

2. Cerita tentang yahudi sebagai penyebab konflik para Sahabat baru menguat belakangan dan minim disebut dalam catatan sejarahawan muslim awal. Saya ambil contoh misalnya Abdullah bin Saba yang dikatakan sebagai salah satu penghasut/provokator. Ini adalah tokoh kontroversial yang oleh beberapa pihak bahkan diragukan eksistensinya dan dikatakan berkiprah dijaman khalifah Ustman ibn Affan. Sedangkan kita tahu, perselisihan antar para Sahabat sudah terjadi beberapa saat setelah Rasulullah mangkat.

3.  Perselisihan politik di antara para Sahabat Nabi sudah terjadi sejak Rasulullah masih hidup. Kita ambil contoh tentang kompetisi tak terlalu sehat antara dua pilar utama umat islam dari kaum Anshar yakni suku Aus dan Kahzraj. Dikisahkan; ketika suku Aus berhasil membunuh tokoh yahudi Kaab Ibn al Asraf, maka suku Kahzraj juga segera membunuh Sallam bin Huqaiq (tokoh yahudi lainnya) hanya demi menyenangkan Rasululah. Kedua suku ini  bahkan pernah nyaris saling tebas saat terjadinya peristiwa Haditsah al-Ifki ketika beredar gosip di Madinah bahwa Ummul mukminin Aisyah ra. berselingkuh dengan Syafwan bin Muatthal.

4. Meyakini bahwa segala pertikaian yang terjadi di era para sahabat adalah ulah yahudi akan menjadi sebuah kontradiksi; artinya kita harus merevisi kembali keimanan kita terhadap Sahabat-sahabat Nabi. Apabila selama ini kita selalu di doktrin untuk percaya bahwa Sahabat Nabi Saw. tersebut adalah pribadi-pribadi pilihan yang nyaris sempurna; unggul dalam ilmu-ilmu agama serta politik-kenegaraan _ Murid-murid terbaik Rasululllah yang merupakan figur-figur istimewa dibidang siasat/strategi dan ditunjuki oleh Tuhan (ahli ibadah), maka sepertinya kita harus mulai terbiasa berfikir sebaliknya. Sebab, andai para Sahabat yang merupakan generasi terbaik dari umat ini saja dengan mudahnya bisa dikadali oleh segelintir yahudi, lalu harapan apa yang tersisa untuk kita umat Islam sekarang?

Demikianlah, semoga setiap peristiwa buruk bukan hanya untuk dibantah (diingkari), tetapi juga mampu menjadi ibrah dan hikmah bagi kehidupan yang kita jalani.

Postingan populer dari blog ini

FROM THE RIVER TO THE SEA, PALESTINE WILL BE FREE.

A G A M A ; dengan TANDA TANYA

WARISAN SEDERHANA