INDONESIA 1965. Bagian 1: Mbah Marto

"Waktu itu situasinya memang kacau Le... Gesekan antara Ormas PKI dan Kelompok-kelompok massa yang didukung ABRI semakin panas. Sampai suatu hari bertruk-truk anggota Anshor dan Gagak Hitam dari daerah lain diperbantukan untuk membersihkan wilayah ini. Aku melihat langsung ketika beberapa tetanggaku sepasang suami-istri yang dituduh terlibat PKI, digiring keluar dari rumahnya selepas asyar oleh anggota-anggota Anshor. Mereka meronta; meraung dan melolong-lolong minta pengampunan. Tak ada yang peduli karena mereka malah diseret ke atas truk untuk dibawa ke rumah penahanan. Anak-anaknya yang menyaksikan dari pintu menangis sesenggukan, mereka ingin ikut tapi ditahan oleh anggota Anshor yang lain. Selepas magrib, orang-orang yang ditangkapi ini dibawa ke jurang ditepi laut untuk ditebas dengan parang. Yang macam ini bukan hanya satu atau dua kejadian, banyak peristiwa serupa lainnya. Dan sampai sekarangpun, jika teringat kejadian-kejadian itu, aku masih selalu mual pengen muntah, rasanya seperti baru terjadi kemarin saja".

Tentara menggiring ibu-ibu yang dituduh PKI [Perpusatkaan Nasional RI via Tribunal1965]

Mbah Marto; demikian aku mengenalnya, tersenyum kecut dan mengalihkan pandangan dariku. Dibawah redup bohlam lampu rumah paman yang malam itu harus kami jagai, sekilas aku masih sempat melihat mata berkacanya yang berusaha ia sembunyikan. Mbah Marto ini; meskipun telah renta tapi masih memiliki ingatan tajam dan tuturkata yang jelas. Beliau adalah embah sambung, saudara dari embahnya emak yang sejak lama telah hidup sebatang kara di wilayah Tembakur kecamatan Pesanggaran - Banyuwangi,  yang setelah terus aku desak dan kupancing-pancing sejak beberapa hari sebelumnya, akhirnya bercerita panjang tentang berbagai kejadian/kengerian di tahun '65 di desanya. Dan yang ia kisahkan padaku dimalam bulan Juni tahun 2004 itu _katanya_ adalah sesuatu yang sudah tidak pernah lagi ia bicarakan dengan siapapun sejak berpuluh tahun yang lalu.

Gambar ilustrasi yang seingatku cukup mendekati sosok mbah Marto, di comot dari Google.

"Semua langsung dibunuh ya Mbah... Kabarnya ndak ada yang diadili?"

"Pengadilan opo tho Le....", Embah menghela nafas sebelum kemudian ia melanjutkan...

"Mereka itu sebenarnya hanya simpatisan, bukan benar-benar anggota PKI. Lha tapi jaman itu memang banyak yang sudah kalap, bahkan orang yang pernah mencuri pisang atau singkong saja yang padahal hanya untuk di makan dan mereka bukan PKI, juga ikut di angkut ke laut".

"Lalu bocah-bocah yang ditinggalkan itu nasibnya gimana mbah?"

"Sampai beberapa hari, kami mencuri-curi kesempatan mengirimi mereka makanan, sebab kalau ketahuan kami juga diancam akan dibunuh. Beberapa waktu kemudian anak-anak itu pada menghilang, ada yang bilang mereka masuk kehutan ikut orang-orang PKI yang menyingkir atau di ambil oleh kerabat jauhnya, ada juga yang berkata mereka dibawa oleh orang yang tak dikenal. Entah bagaimana nasib mereka yang sebenarnya".

"Kasihan ya mbah, padahal itu bocah yang tidak tahu apa-apa..."

"Yang begitu belum seberapa Le, ada banyak kejadian lain yang tak kalah keterlaluan. Seperti kejadian salah bunuh hanya karena bernama sama dengan nama anggota PKI yang sedang dicari, salah satunya keponakan embah sendiri yang ditebas saat mancing, lalu ada juga pembunuhan-pembunuhan hanya atas dasar sentimen pribadi, misalnya aku pernah sakit hati sama si A atau menginginkan isteri si B, tinggal kulaporkan saja bahwa A dan B ini pendukung/anggota PKI, maka tamatlah mereka. Terus, bagi yang tidak ikut bergerak seperti mbahmu ini, Rumah kami dijadikan basis dan diharuskan menyiapkan makanan apa saja yang kami miliki, beras - ternak ayam atau kambing dan termasuk juga sapi harus dimasak untuk memberi makan laskar".

"Sampai segitunya......., tapi kenapa gak ditangkap ketua-ketua PKI-nya saja ya mbah..., mosok semua dihabisi.."

"Iya memang begitu, aku juga ndak tahu. Mungkin maksudnya ingin membersihkan semua yang dianggap buruk. Padahal kalau dipikir, yang begitu malah melawan hukum alam, dunia ini tidak mungkin hanya hitam atau putih saja lho Le, ada warna-warna lain yang semua saling terkait dan sama penting bagi kehidupan. Tapi yang demikian bukan hanya kelakuan Anshor, ada juga Gagak Hitam yang tak kalah bengisnya. Beberapa anggota dari kedua ormas ini biasa meminum darah orang PKI yang mereka gorok, katanya untuk menguatkan mental".

Sekali lagi mbah Marto mengalihkan pandangan dariku, tangannya meremas-remas korek jipo didalam plastik rokok lintingannya, seperti sedang melampiaskan kekesalan.

Ilustrasi korek zippo jadul
 
"Tapi PKI juga sangat kejam kan Mbah?!?" kataku kemudian, mencoba mendegradasi emosi beliau.

"Betul. Tapi kita lebih kejam lagi. Di daerah Sanggaran ini, kita berkali-kali lipat lebih kejam lagi. PKI membunuh orang masih pilih-pilih, seperti kiyai, lurah atau orang yang menonjol dimasyarakat yang merupakan tuan-tuan tanah yang menghalangi cita-cita mereka, atau juga melalui berbagai bentrokan yang disitu kelompok mereka juga sering kalah dan jadi korban. Kalau kita enggak. Disini kita membunuh orang tanpa banyak pertimbangan. Dalam satu wilayah kalau sudah diplot pendukung PKI ya semua bisa dihabisi. Laki dan perempuan. Beberapa tetanggaku itu sebenarnya hanya ikut grup kesenian yang apesnya grup mereka katanya terkait organisasi PKI. Tapi aku menyaksikan, sehari-hari, mereka ini bukan orang-orang jahat dan bukan benar-benar komunis. Keseharian mereka hanya bekerja mencari makan, tidak pernah aneh-aneh, aku paham karena kami kenal baik. Makanya, kalau kamu belum tahu, kebanyakan orang Kristen dan Hindhu di Banyuwangi ini dulunya beragama Islam. Mereka pindah agama karena frustasi melihat orang-orang Islam yang demen menyembelih orang".

Pemuda-pemuda anggota PKI diciduk tentara

Aku terdiam dengan rasa tercekat ditenggorokan, rasanya kini sudah tidak ada gairah ingin mengorek informasi lebih jauh lagi. Kasihan embah, ini ternyata seperti membuka luka lama dalam batinnya. Sementara kesunyian telah menyeruak memenuhi seisi ruang lebih-lebih setelah kusadari bahwa waktu telah lepas tengah malam, aku segera merebahkan badan yang sesaat kemudian dikuti oleh mbah Marto. 

Sebelum terlelap, ogah-ogahan aku masih sempat berucap sembari melirik beliau;

"Njenengan kenapa gak pindah agama juga Mbah?"

"Eehe... Agama apapun sama saja Le. Karena yang jadi penentu bukan apa agamamu, tetapi bagaimana dirimu memperlakukan agama itu. Menurutku yang paling penting adalah seperti apa kelakuan kita". Lega rasanya mendengar mbah Marto terkekeh kecil. Meski dalam dada, aku masih terus berusaha mencerna apa yang barusan dia katakan.

"Di dunia ini, ada banyak hal yang sangat mengerikan. 
Tetapi tidak ada yang melebihi manusia".

Lanjut ke INDONESIA 1965. Bagian 2: Sejarah Hitam 

Anshor dan Gagak Hitam adalah dua organisasi massa yang merupakan musuh-musuh tradisional PKI. Kedua Ormas ini sama-sama di backing penuh oleh ABRI, yang satu berbasis keagamaan NU yang lainnya berideologi Nasionalis.

Postingan populer dari blog ini

FROM THE RIVER TO THE SEA, PALESTINE WILL BE FREE.

A G A M A ; dengan TANDA TANYA

WARISAN SEDERHANA