PERANG RUSIA - UKRAINA; Sebuah Pertaruhan Bagi Masa Depan Umat Manusia.
UURAAAA...!!*
Demikian teriak anakku yang masih SD dan teman-temannya seringkali saat mereka bermain (gojekan perang) bersama. Sayangnya, seperti halnya mereka, begitu juga dengan kebanyakan orang-orang dewasa di berbagai kanal berita serta (hampir) di semua platform media sosial kita, yang bagaikan paduan suara, mayoritas kompak bersuara; Uraaa ! Dalam mendukung perang Rusia di Ukraina.
Memang benar, bagi yang menonton; Perang seringkali terlihat keren, heroik, penuh kemuliaan, agung dan bahkan romantis. Ini sekali lagi bagi yang mengamatinya dari jauh, namun sejatinya bagi yang mengalami, perang adalah sebuah bencana dan tragedi paling ngeri tak terperi.
![]() |
| Dampak kerusakan akibat perang di Ukraina. Untuk videonya yang lebih horor bisa di lihat disini. |
Sejujurnya, sebagai seorang pengamat politik interlokal yang bekerja di KPK bagian Penyadapan (karet), saya bukanlah seorang yang Pro Barat dan anti Rusia. Hamba hanyalah seorang yang pro terhadap perdamaian dunia yang berasaskan kesetaraan dan saling menghargai; seorang yang sangat menyesalkan adanya begitu banyak korban orang tak bersalah akibat invasi Rusia dan tangisan pedih Ibu-ibu Rusia yang putra-putranya membusuk dalam parit-parit di Ukraina hanya karna paranoia pemimpinnya.
Yang makin membuat miris, dibanyak situs berita serta status-status media sosial yang berbasis agama, ruang komentar penuh sesak dengan teriakan Uraaa yang seringkali diselingi takbir dari mereka yang mendukung perang Rusia dengan harapan agar Rusia menang dan hegemoni global yang sekarang dikuasai kekuatan AS-NATO bisa bergeser kepada Rusia yang selama ini banyak dikesankan lebih lembut terhadap dunia Islam, atau kalau hal itu tak terwujud maka diharapkan kedua raksasa (Rusia-USA) ini sama-sama hancur akibat perang mereka.
Serangan mematikan di sebuah Rumah Sakit di kota Mariupol |
Sayangnya, ini sungguh anggapan yang keliru. Sebab, andai yg berperang adalah negara Timor Timur dan Papua Nugini dapatlah kita memandang secara sepele macam itu. Akan tetapi sekarang ini yang berperang adalah Rusia melawan Ukraina yang didukung oleh AS dan Barat; dua kekuatan utama yang menguasai tekhnologi, perekonomian dan peta perpolitikan dunia.
Terbukti belum genap dua bulan saja dua kekuatan ini berkonflik, industri minyak segera menjadi goyah dan harga BBM pun melejit serta langka dipasaran yang seperti biasa segera diikuti dengan naiknya harga bahan-bahan kebutuhan yang lain. Bagi kita para petani singkong, Mbajak lahan yg biasanya Rp. 600.000 sekarang naik drastis menjadi Rp 800.000 hingga 850.000 per hektarnya. Sementara di Timur Tengah, yang selama ini mayoritas negaranya mengekspor Gandum dari Ukraina dan Rusia, saat ini tengah dilanda kekhawatiran serta ketakutan mendalam terkait dengan naiknya harga-harga bahan makanan pokok.
Bahkan di Maroko, harga roti malah sudah di subsidi. Uraaaa......
Itu baru dampak ekonomi saja, belum menyangkut dampak keuangan yang tidak bisa dijelaskan disini karena saya tidak mudeng 😝, hingga lebih jauh lagi yang paling mengerikan (apabila sampai terjadi) adalah dampak perang nuklir yang semakin mungkin bila perang berlangsung lama.
Ya, tidak bisa dipungkiri, jika konflik sampai berkepanjangan maka pihak Rusia-lah yang paling dimungkinkan akan kalah dalam perang ini. Hal demikian bukanlah penilaian ngawur, tetapi didasari pada fakta perang Ukraina dimana Rusia berhadapan dengan banyak negara paling kuat secara sumber daya - ekonomi dan militer. (Lawan Ukraina saja mereka sudah ngos-ngosan, apalagi bila dikeroyok secara langsung oleh AS berikut aliansi NATO-nya).
![]() |
| Salah satu gambar kehancuran konvoi tank Rusia dalam perang di Ukraina. |
Sebulan yang lalu, bolehlah kita mengatakan bahwa Ukraina belum kalah karena Rusia belum sepenuhnya mengerahkan kemampuan militernya dalam menyerang, namun hari ini ketika jet tempur dan rudal-rudal termutakhir Moskow sudah digunakan dan nyatanya masih begitu banyak video bertebaran yang menunjukkan berbagai konvoi dari divisi tank dan Ranpur Rusia dihancurkan, jet-jet tempur yang rontok, pasukan Rusia mundur dari Kiev, dan sebagai klimaksnya adalah tragedi tenggelamnya Kapal Perang Moskva yang nyungsep kedasar laut akibat di rudal Ukraina, maka kita harus mengakui bahwa secara kualitas, militer Rusia sebenarnya memang tak sebaik yang diberitakan. Selama ini mereka di takuti hanya karena besarnya jumlah (kuantitas) angkatan perang dan ancaman Nuklirnya saja.
![]() |
| Moskva, Kapal perang terbesar Rusia yang memimpin Armada Laut Hitam Kremlin dalam menginvasi Ukraina setelah di hantam rudal Neptunes, dan untuk video kehancuran Ranpur dan Tank Rusia bisa di cek disini atau disini. |
Saat terpojok dan merasa kalah, maka Putin diyakini akan menembakkan persenjataan nuklirnya, kemudian beberapa detik selanjutnya secara otomatis sistem persenjataan nuklir Amerika Serikat dan Barat akan melakukan hal yang sama terhadap Rusia (dan mungkin juga terhadap negara-negara pendukungnya).
![]() |
| Ilustrasi serangan nuklir di sebuah kota. |
![]() |
| Gambar di atas adalah proyeksi dari dampak musim dingin nuklir (Nuclear Winter) di Amerika apabila terjadi PERANG NUKLIR ANTARA INDIA DAN PAKISTAN. Sumber gambar AI. |
Itu di Amerika yang jauhnya ribuan kilometer dari pusat konflik, lalu bagaimana dengan kita yang disini? Kemudian dalam skenario di atas, yang berperang adalah India dan Pakistan yang hanya mempunyai sekitar dua ratusan peluru nuklir, lalu bagaimana jika Rusia dan AS-Barat yang berperang dan menembakkan semua persenjataan nuklir mereka yang jumlahnya apabila digabung lebih dari sepuluh ribu peluru?
Nuclear winter digambarkan oleh para ilmuwan sebagai fenomena cuaca dingin yang ekstrim ketika sinar matahari terblokir oleh asap dari ledakan nuklir; ini dapat berlangsung hingga sepuluh atau duapuluhlima tahun, merupakan dampak iklim jangka pendek dan jangka panjang akibat perang nuklir, tergantung dari skala perang yang terjadi. Nuclear winter selain menyebabkan Bumi mengalami pembekuan tanah karena suhu dingin yang ekstrim, pada akhirnya mengakibatkan berbagai penyakit akibat radiasi dan kegagalan panen nan parah yang akan menyebabkan lebih banyak lagi korban manusia yang mati kelaparan, bahkan melebihi dari dampak langsung akibat perang nuklir itu sendiri. Indonesia sebagai negara non-nuklir yang mengira sedang hidup tenang dan damai juga akan terimbas dan kolaps.
Buat kita, jika perang nuklir antara Rusia dan AS terjadi, maka jangan lagi bermimpi tahun depan akan menyewa lahan lebih luas karena tahun ini hasil panen singkong lumayan. Jangan lagi bermimpi akan naik haji, menabung untuk membangun rumah atau ingin menyekolahkan putra-putri kita hingga kuliah. Karena konsekuensi dari perang nuklir antara Rusia dan Amerika adalah hancurnya peradaban umat manusia.
Maka mumpung masih berkesempatan, mari kita merenung sejenak wahai kawanku generasi android penyuka (h)ura-(h)ura yang hidup di masa damai bumi yang tak pernah merasakan betapa mengerikannya perang apalagi konflik nuklir. Marilah bersyukur dan berdo'a untuk perdamaian dunia, mari kita juga sedikit berterimakasih atas kesabaran AS-NATO, sebab setiap kali AS dan NATO menahan diri dari menanggapi provokasi nuklir Rusia, itu artinya masa depan kita baru saja terselamatkan. Dan tentu saja, seorang penguasa nuklir seperti Putin yang mengancam musuhnya dengan nuklir yang padahal dia tahu bahwa musuhnya itu juga memiliki nuklir, bagaimanapun juga dia adalah seorang yang putus asa.
Selamat beribadah di bulan puasa, jangan pupus harapan untuk perdamaian dan persaudaraan umat manusia. (Miftahuddin bin Abdul Jalal, Ramadhan 1443 Hijriah; 29 April 2022).
*Uraa adalah pekik perang Rusia yang terkenal akan serangannya yang berskala besar dan ganas.





