Membaca Ulang, KISAH SAYIDATINA AISYAH.
![]() |
Setelah selesai, beliau kembali keperkemahan, namun ia terkejut ketika
menyadari bahwa kalungnya ternyata telah hilang. Sayidatina Aisyah kemudian
pergi lagi dari perkemahan untuk mencari kalung yang hilang tersebut.
Disisi lain, rombongan besar pasukan Muslimin telah berangkat kembali
meneruskan perjalanan menuju Madinah dengan anggapan bahwa Aisyah sudah berada
di dalam sekedup (tandu) nya.
Dalam kebingungan, Aisyah yang tahu telah tertinggal memilih duduk menunggu dan
berharap akan ada rombongan kaum Muslimin yang kembali menjemputnya.
Akan tetapi harapan itu tak terkabul, sampai ia tertidur.
Beruntungnya, tak berapa lama kemudian lewatlah ditempat itu Syafwan ibn
Muatthal, salah seorang pasukan Muslim yang juga tertinggal oleh kesatuannya. [Pendapat
lain menyebut Syafwan memang prajurit yang bertugas untuk memunguti jika ada
barang jarahan yang tercecer].
Syafwan yang diceritakan sebagai pemuda tampan berpribadi baik, sangat terkejut
ketika tahu bahwa yang tertidur itu adalah Aisyah istri Rasulullah, segera ia
membangunkan, meminta Aisyah menunggangi untanya dan ia sendiri berjalan
mengawal pulang ke kota Madinah.
Melihat fakta Aisyah yang pulang dari bersyafar hanya (berdua) bersama Syafwan, penduduk
Madinah mulai berdesas-desus dan bergunjing menurut pendapat/keyakinannya
masing-masing. Kaum Muslimin (termasuk kalangan sahabat Nabi) terbelah dalam
dua kubu, antara yang tidak percaya & yang percaya bahwa Aisyah telah
berselingkuh dengan Syafwan dan menuduhnya berzina.
Situasi bertambah panas oleh provokasi dari golongan munafik [pimpinan Abdullah
Bin Ubay, salah seorang punggawa suku Kahzraj] dengan gosip-gosip mendidihnya.
Rasulullah sampai pada puncak kegundahan beliau.
Sayidina Ali, yang juga ikut larut pada pusaran kontroversi bahkan sampai merasa perlu menginterogasi Barirah; salah seorang budak perempuan Aisyah dengan keras demi menggali informasi; sejarah mencatat dengan jelas ucapan tendensiusnya ketika dimintai pendapat oleh Nabi terkait permasalahan ini, "Sungguh Allah tidak mempersempitmu ya Rasul, masih banyak wanita selain dia (Aisyah)".
Syarah Shahih Muslim; Imam An Nawawi Halaman 163.
Atau dengan redaksi yang lebih halus; dalam Hadits Bukhari nomor 3826 Disini atau Disini
Perdebatan sengit; hingga saling ancam yang mengarah pada konflik bersenjata antara dua pilar utama pasukan kaum Muslim semakin menuju ke titik bahaya hingga beberapa saat lamanya, nyaris tak terelakkan. Yakni antara suku Auz yang mendakwa Abdullah bin Ubay sebagai biang kerok dari kekacauan yang terjadi, dengan suku Kahzraj yang bersumpah akan melindungi Abdullah bin Ubay yang merupakan anggota dan salah seorang pemuka suku mereka.
~
Yang menjadi pertanyaanku terkait peristiwa ini adalah:
1. Qur'an surah anNur ayat 11-26 (minus beberapa ayat semisal ayat 22) diklaim berhubungan dengan kisah tersebut namun ayat-ayat pembuka yang turun lebih dulu: ayat 1-10 (meski juga membahas isu serupa yakni hukum-hukum ihwal zina) dikatakan tidak berkait. Kenapa dlm kasus ini yang dibahas malah hukuman dera (bagi pe-zina pra nikah) bukannya rajam, padahal yang menjadi tema adalah seorang wanita menikah (Aisyah) dan pada waktu-waktu sebelum itu Nabi telah mengkampanyekan hukum rajam terhadap pezina muhsan? Inikah yang dimaksud dengan 'keteraturan Qur'an'?
2. Siapakah yang berhak menentukan bahwa suatu ayat Qur'an itu dihapus/tidak dihapus, diganti/tidak diganti, berhubungan/tidak berhubungan dengan ayat Qur'an yang lainnya?
3. Sebagai seorang ummul
mu'minin yang seharusnya menjadi tauladan serta realisasi dari syariat Islam,
bagaimana bisa sayidatina Aisyah malah berlaku ceroboh [melanggar aturan agama]
; pergi tanpa pamit - tanpa pesan - tanpa pengawal (teman mahram) terlebih di suatu
tempat yang asing yang mungkin penuh bahaya, sebagaimana seharusnya akhlak mulia Ummul mu'minin
serta adab terbaik seorang muslimah seperti yang selama ini sering digembar-gemborkan
oleh para ustadz?
4. Dalam riwayat lain, saat menyadari kalungnya raib Sayidah Aisyah dikatakan sebenarnya sudah mengetahui bahwa rombongan telah bersiap melanjutkan perjalanan. Kenapa beliau malah mengabaikan hal tersebut hanya demi sebuah kalung? Atau bukankah akan lebih baik lagi jika beliau meminta bantuan kaum muslimin yang lain untuk ikut membantu mencari kalung tersebut?
5. Nabi sendiri, sesibuk apa sebenarnya hingga membuat beliau menjadi luput dan tak sadar jika istri tercintanya telah tercecer?
6. Tandatanya?

