RITUAL AGAMA, Jaminan Kesalehan Sosial?

Mendengarkan khotbah shalat jum'at dimasa kopat-kapit

[inspired by true event]

    Ada anggapan kuat dalam masyarakat agama (terutama mereka yang hidup di daerah pedesaan), bahwa orang yang tidak mau atau enggan menjalankan kegiatan-ritual keagamaan adalah orang yang tidak baik atau kurang baik. Salah satunya adalah kepada seorang yang tidak pernah shalat jum'at_ misalnya.

Ya, suka atau tidak, nyatanya memang hanya sesederhana itulah ukuran yang tertanam menjadi pola pikir mayoritas umat beragama. Tak peduli meski orang yang didakwa tersebut sejatinya selama hidup minim sekali membuat orang lain merugi.
 
Aku mengerti, tatkala kita telah berkomitmen kepada satu hal _entah itu perkawinan, negara, atau pun agama, memang seharusnyalah kita mengacu kepada aturan yang telah terpaku disitu. Akan tetapi jangan pula lupa, pada tataran real, tak jarang kita harus rela _atau terkadang dengan terpaksa_ mesti berimprovisasi dan bersiasat guna menghadapi kenyataan.
 
Sebagai contoh adalah ketika seorang yang taat beragama pada akhirnya harus rela melepas beberapa tuntutan agamanya ketika ia hidup disebuah negara sekular dengan persaingan hidup yang keras.
Mengukur pribadi seseorang hanya melalui satu sisi yakni dari bagaimana dia menjalankan ritual ibadah saja bagiku adalah kurang lengkap karena pada kenyataanya hal itu tak selalu korelatif. Tidak empirik.
Demikianlah setidaknya yang kupahami oleh sebab itulah yang ku buktikan melalui salah satu plot perjalanan dihidupku... Dahulu, [saat aku masih baik menurut anggapan kebanyakan].

***

Surabaya, Juli 2005.
Ketika itu zaman susah, aku terdampar di terminal Purabaya (Bungurasih) setelah uang bekal yang kukumpulkan (sisa dari yang sempat kukirimkan kepada emak sebelumnya) yakni dari setahun kerja di Bali, tujuh bulan di Banyuwangi dan empat bulan di Trenggalek lenyap digondol *copet.
Tinggal 50 ribu rupiah yang selamat karena kuselipkan didalam celana dalam.
Aku yang waktu itu karna satu-dua hal memang masih enggan pulang kampung, akhirnya kesampaian juga hidup luntang-lantung.
 
Malam pertama tidur di emperan masjid dalam area terminal, namun beberapa saat lepas tengah malam, aku & puluhan orang lainnya diusir oleh marbot, alasannya mengotori dan sering terjadi kasus kemalingan.
Semua sisi emperan digenangi air agar para gelandangan sepertiku tidak balik lagi.
Tidur malam itu berlanjut dikursi ruang tunggu penumpang.
 
Malam berikutnya aku berniat pindah menginap di Masjid lain yang berpagar memutar. Sekira 500 meter dari area terminal.
Ba'da shalat magrib _setelah jamaah lainnya bubar, aku mendekati Pak imam masjid yang telah selesai dari dzikirnya yang lama. Wajahnya cerah dengan dua tanda hitam di dahi. Beliau tak bergamis hanya memakai stelan official seperti baju pak penghulu di kampungku.
Kutaksir usianya disekitar 50-55 tahun.
"Assalamu'alaikum pak,".
Sapaku yang segera dijawabnya dengan suara datar, ekspresinya dingin saat mendengar aku melanjutkan kalimatku.

"Begini pak, langsung saja, saya ini sedang kesusahan. Kalau boleh saya mohon ijin menginap disini untuk malam ini saja, saya akan tidur di emperan".

Pak imam tak menyahut, ia masih diam memperhatikanku lekat.
"Ini silahkan diperiksa & disimpan kartu ID saya". Kataku lagi sambil menyerahkan KTP dan SIM C kepada beliau yang segera diamatinya.

Aku, sembari menunggu jawaban beliau, menyapukan pandangan ke sekeliling masjid, pada mimbarnya yang gagah, pada kaligrafi-kaligrafinya yang indah, juga pada sebuah papan input-output dana kas masjid yang pada saldonya tertera jumlah sekira 40 juta.
Menit berlalu, aku kembalikan pandangan k
epada pak imam yang ternyata juga sedang memandangiku.
"Sudahlah dek," Katanya kemudian dengan suara berat. Aku melongo.
"Sampeyan cari tempat lain saja. Uang saldo itu tidak ada disini, yang bawa juga bukan saya kok,".
Gludak!
Pelan kalimatnya, tapi serasa menghantam telak jiwaragaku. Betapa aku sangat terhina, geram & bahkan sampai ingin menangis saking tak tahan dengan tuduhannya.
Segera, kuambil kembali kartu
-kartu identitasku lalu akupun pergi tanpa permisi.

Namun syahdan... Karena masih belum ingin pulang maka kuputuskan untuk bertahan di kota pahlawan dengan bekerja serabutan apa saja hanya demi seporsi nasi. Bekerja disebuah rumah makan sederhana, membantu juru ketik di polsek, ikut nguli proyek dan bahkan sampai ikut nimbrung menjadi "sukarelawan" dengan para petugas kebersihan di stasiun Waru, yang kesemuanya itu, murni kujalani tanpa gaji. 


Stasiun Waru, Sidoarjo. Gambar dari Google; tak banyak yang berubah sejak aku menggelandang disana sekitar 15 tahun yang lalu.

Ini berlaku hingga waktu lebih seminggu.


Sampai akhirnya atas bantuan mas Bambang (seorang Satpam yang baru saja di PHK), Aku diterima bekerja sebagai helper truck gandeng di PT. Sumber Karya Abadi (sebuah biro jasa pengiriman logistik Surabaya-Jakarta) dengan gaji seadanya.

 

Terlewatilah sebulan, dan aku mulai bosan.


"Pak, saya mau balik kampung," Kataku pada pak Slamet sopirku, suatu petang saat kami ngetem di area pergudangan dan terminal
PT. Brigestone, Jakarta Pusat.

"Lhah, gak jadi mondok?".
Pak Slamet balik tanya, mengingatkanku pada niatnya beberapa waktu lalu yang ingin menitipkan aku ke pesantren kakaknya di Semarang yang katanya cukup besar.
"Mboten pak, saya kangen emak," Lirih jawabku, macam sedang mengeluh.


Sekedar diketahui, Pak Slamet ini adalah orang Islam yang tidak pernah sholat tapi sangat konsen pada urusan agama orang lain. Diawal kenal, beliau bertanya padaku; "Kamu biasanya sholat enggak?" dan ketika kujawab "ya" maka sejak itu setiap situasi memungkinkan dia seringkali menyempatkan berhenti untuk memberiku waktu sholat disetiap perjalanan kami.
Cerita unik lainnya, adalah beberapa kali ketika beliau & temannya sesama sopir berhenti disebuah tempat pelacuran berkedok rumah makan pinggir jalan di daerah Batang - Jawa Tengah, pak Slamet selalu bilang, "Aku tak nglonte disek le. Ini tidak baik. Kamu disini saja jaga mobil", satu hal yang hingga hari ini selalu mampu m
embuatku terseyum plangaplongo setiap kali mengingatnya.

Pada akhirnya, karena niatku bulat, pak Slamet (teman-temannya biasa memanggil dia "ki bodo") tak lagi membujuk. Disaat perpisahan beliau hanya berkata nanti kalau aku sudah ketemu emak, silahkan kalau mau balik lagi dan mondok di pospes kakaknya di Semarang. Aku tak menjawab banyak, hanya berulang mengucap terima kasih saja. Sebab dalam benak, kepalaku masih diliputi kegalauan yang luarbiasa. Aku memang sangat kangen dengan emak, tapi sebenarnya tetap masih belum yakin juga apakah aku ingin pulang atau tidak.

Pak Slamet memberiku uang saku & gajian sebulan yang kemarin kutitipkan, kemudian ia mengenalkanku pada seorang teman sopirnya yang lain yang juga membawa truk niaga dengan rute Jakarta-Medan.

***

Lubis namanya, 
ia seorang Batak muslim yang kemudian ku tahu juga tidak sholat.

Magrib telah lepas saat aku selesai membantu helper pak Lubis menata ulang tumpukan ban yang akan dimuat ke Medan dan menutupnya dengan terpal besar yang beratnya gak kira-kira.
Pak Lubis mengajak kami makan di sebuah warung didekat terminal yang karna gerah akupun makan di emperannya.
Dari luar, lirih kudengar obrolan pak Lubis dengan ibu pemilik warung yang akrab.
Itu tentang aku.

"Apa ndak takut pak dititipin orang yang belum kenal?" Tanya ibu pemilik warung diakhir obrolan mereka.
"Tidak, "
Pak Lubis menjawab tegas,
sembari kemudian melanjutkan bicaranya…
"Dari gerak-geriknya, dari wajah dan sopan katanya, aku yakin ini anak baik".
Dan Glek
!
Aku berhenti mengunyah. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyelinap ke hatiku. Subhanallah, bersyukur pada-Mu ya Allah ketika ternyata masih ada manusia yang mempercayai sedikit saja kebaikan pada diri hamba.
Meskipun itu bukan berasal dari seorang hamba yang taat kepadaMu.

***

*copet; ini adalah orang yang telah ku kenal sejak sebulan sebelumnya saat mampir di Ponorogo, dia awalnya memperkenalkan diri sebagai orang yang ceria, ramah, alim dan menjanjikanku pekerjaan. Meski kemudian tanpa tujuan yang kuketahui, dia hanya membawaku luntang-lantung ke berbagai tempat di Jawa Timur, sampai akhirnya kami berpisah karena dia tiba-tiba "menghilang" di Surabaya. Aku menyebutnya copet. Para pekerja terminal menyebutnya tukang gendam. 😂

Postingan populer dari blog ini

FROM THE RIVER TO THE SEA, PALESTINE WILL BE FREE.

A G A M A ; dengan TANDA TANYA

WARISAN SEDERHANA