SAINS DALAM AGAMA; Adakah Itu Nyata?
Seorang senior sekaligus sahabat bertitel Drs., yang terbiasa membombardir whatsap saya dengan berbagai pesan bermuatan politik dan keagamaan, suatu hari setelah sebuah diskusi kami yang mulai mendalam terkait isu-isu Agama, tiba-tiba mengirimkan sebuah link berita yang berjudul Deretan Fenomena Alam yang Membuktikan Kebenaran al-Qur’an dalam Sains.
Silahkan dibaca dulu.
Yang mana inti dari link tersebut adalah beberapa point _yang dikatakan sebagai_ fakta ilmiah dari Al-Qur’an tentang fenomena alam yang dahulu tidak dikenal manusia dan saat ini telah dibuktikan kebenarannya oleh para ahli sains modern; seperti Api didasar laut, pertemuan dua laut yang tidak saling menyatu, sungai dibawah laut, tumbuhan bertasbih dan hujan es.
Tanpa bermaksud jemawa, sejujurnya hal-hal demikian sudah menjadi konsumsi saya sejak 20 tahun silam - yakni ketika saya masih terbiasa bergumul dengan media-media dakwah semacam eramuslim, islam online, atau majalah sabili yang ketika itu biasa mengulas tulisan-tulisan Harun Yahya dan pendapat-pendapat Dr. Zakir Naik secara bombastik.
Dan ya, dulu saya sangat terpana dan kagum luarbiasa. Namun, diusia saya sekarang yang sudah 40 tahun ini, ketika satu persatu kenikmatan (seperti gigi) telah dilucuti, ketika saya sudah banyak berdiskusi baik dengan orang lain atau dengan diri sendiri, ketika saya telah berani merenung jauh lalu membuka hati dan berfikir keluar dari kungkungan dogma serta mampu membandingkan sebuah berita/infromasi dengan berita/data-informasi lainnya, maka saya sudah tidak terkejut lagi saat mendapati “fakta-fakta” pada artikel berita yang disampaikan kawan saya tersebut.
Kemudian, perlu digarisbawahi bahwa melalui tulisan yang akan panjang ini, saya juga tidak bermaksud membantah klaim-klaim yang dinarasikan sebagai bukti kebenaran Qur’an di atas, saya hanya akan mencoba memberikan umpan-balik ataupun tanggapan, menampilkan sebuah kejadian (fenomena) dari sudut pandang berbeda berikut berbagai kemungkinannya, serta pendapat dan fakta ataupun versi lain terkait isu ini yang saya rangkum dari pendapat sekian banyak guru, kawan diskusi dan berbagai artikel di internet, juga pendapat yang bersumber dari hasil perenungan pribadi.
Saya bukanlah seorang atheis apalagi penolak agama. Sebaliknya, saya adalah seorang yang sungguh berserah diri (muslim) atas segala ketetapan Tuhan yang telah Ia pastikan melalui hukum-hukumNya di Alam semesta; makhluk beragama yang sejak lahir telah dibentuk dan hidup dengan mewarisi nilai-nilai itu dari Orangtua, keluarga dan lingkungan saya. Dan terhadap Qur’an sendiri, hingga hari ini saya masih biasa membacanya, menghormati dan mengakui keunggulannya. Tentu saja, sebuah buku kuno yang mampu mempengaruhi dan menggerakkan milyaran manusia, ia pastinya adalah sesuatu yang istimewa. Namun menepi kembali pada keyakinan saya, setelah semua yang saya alami dan saya pelajari, pada akhirnya diri hamba tetap saja didamparkan pada kenyataan akhir; bahwa sehebat apapun Al-Qur’an, ia tetaplah sebuah ciptaan. Dan setiap ciptaan, logikanya tidak akan pernah setara apalagi melebihi penciptanya. Bagi saya pribadi, Kalam Allah yang maha Besar itu tidak mungkin hanya berupa suratan didalam Al-qur’an, tetapi Alam semesta beserta isinya itulah justru yang merupakan Kalam terbesar Ilahi yang mesti digali dan dipelajari lebih jauh lagi. Tidak ada ciptaan yang sesempurna pencipta, karena yang sempurna hanya Allah semata; Tuhan sang maha Segala. Ini hanyalah pendapat saya, dan sebagaimana Anda tidak berhak memaksakan versi keyakinan Anda terhadap saya, maka begitupun sebaliknya, Anda tidak wajib percaya dan mengikuti pendapat ini.
Ohya sebelum lebih jauh, sebagai bonus silahkan disimak sekilas artikel tentang Harun Yahya alias Adnan Oktar yang di Indonesia
bertahun-tahun lalu pernah sangat dikagumi (termasuk oleh saya sendiri) dan juga
cukup dikenal dipelbagai kalangan halaqah serta rohis karena dianggap sebagai
sosok muslim yang menguasai bidang agama dan sains. Disini dan Disini.
Silahkan senyum dulu..
***
Baiklah. Kembali lagi ke pembahasan awal yakni pada fakta-fakta Qur’an yang dikatakan sesuai dengan sains modern tersebut.
Sebenarnya terkait hal ini andai kita mahu sedikit saja bersusah payah mencari pembahasannya di internet, kita akan mendapatkan banyak penjelasan dan bahkan bantahan yang tentu saja disertai dengan bukti-bukti ilmiah modern yang diakui dan logis. Bukan seperti klaim-klaim fenomenal pada link berita di atas yang bahkan sama sekali tidak memenuhi standar sains modern dan belum pantas disebut ilmiah.
Sebagai contoh;
Pertama, akan saya kutipkan pernyataan tentang klaim fenomena alam tentang ‘Api didasar laut’, ‘Dua air laut yang bertemu tanpa saling menyatu’ dan tentang ‘Sungai di bawah laut’.
Sebelumnya penting ditegaskan bahwa pembahasan terkait hal ini merujuk pada;
1. Al-Quran Surat At-Thur ayat 6 ; “dan laut yang di dalam tanahnya ada api”.
2. Ar-Rahman ayat 19-20 yang artinya, “Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu. Di antara keduanya ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh masing-masing.”
3. Al-Quran Surat Al-Furqan ayat 53 yang berbunyi, “dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir berdampingan; yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan dia jadikan antara keduanya dinding serta batas yang tidak tembus.”
Kemudian ada narasi;
“Sungai di bawah laut pertama kali ditemukan oleh pakar oseanografi asal Prancis, Yves Costeau. Saat itu, ia sedang melakukan eksplorasi bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa mata air tawar yang tidak dapat bercampur dengan air laut. Seakan terdapat dinding yang membatasinya. Hal tersebut mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air laut yang berada di tengah lautan. Lalu ia pun menceritakannya kepada seorang profesor Muslim terkait fenomena tersebut. Sungai di bawah laut ini kemudian diberi nama Cenote Angelita yang berada di Meksiko.”
Tanggapan saya,
1. Tentang Api didasar laut. Dari yang saya baca, ayat tentang api di dasar laut ini oleh berbagai kalangan Muslim terpelajar dianggap sebagai salah satu bantahan paling menohok bagi pihak-pihak yang mereka anggap meragukan kebenaran Qur’an yang berasal langsung dari Allah. Dengan dalih; Tidak ada bukti kuat Nabi Saw. pergi ke laut apalagi berlayar mengarungi lautan, disisi lain, tekhnologi penyelaman dimasa itu juga masih sangat terbatas. Jika Qur’an memang karangan Nabi Muhammad, lalu bagaimana mungkin seseorang yang tak bisa baca-tulis dan tinggal di daerah padang pasir yang tandus bisa tahu bahwa di dalam laut ada api?
Baiklah, untuk memahami hal ini seharusnya tak terlampau sulit asalkan yang pertama kita lakukan adalah menetralkan fikiran dan kemudian berani membuka diri terhadap berbagai informasi lain terkait itu yang bersumber dari otoritas sains, alih-alih dari dogma agama yang sempit dan ketat mengikat. Karena semua dalih/argumen yang disajikan tersebut sebenarnya bisa diterangkan dengan mudah jika kita paham sejarah (jalur) perniagaan Rasullulah dan geografi Timur Tengah/Arabia, yang tentunya tanpa harus mengkaitkan dengan "temuan sains" yang wah tersebut.
Misalnya soal laut. Makkah bukanlah kota yang dibangun di tengah-tengah gurun antah berantah (ar-rub al-khali), ia masih bertetangga dengan Jeddah, kota pelabuhan di tepi Laut Merah. Itu sekitar 80 km. Cukup jauh memang, tetapi jarak itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jauhnya jarak yang biasa ditempuh Nabi Saw. saat beliau berdagang hingga ke Yaman dan Syam (Syria) yang jaraknya puluhan kali lipat lebih jauh ketimbang perjalanan singkat ke pantai (Jeddah).
![]() |
| Perbandingan jarak rute niaga dan hijrah Rasulullah |
Pernah terkisah, beberapa saat sebelum perang Badr, kafilah dagang Qurays; dipimpin oleh Abu Sufyan yang pulang dagang dari Syam dengan membawa harta perniagaan melimpah, memilih jalan tepi pantai untuk menghindari aksi pencegatan dari Muslim Madinah. Bahkan, rute hijrah kaum Muslim awal salah satunya adalah dengan mengikuti garis pantai yang terus mengarah ke utara hingga tiba di Madinah.
Lebih lanjut terkait peta Hijrah Rasulullah;
Peta perpindahan Hijrah Rasulullah.
Jadi menganggap Nabi (Orang Qurays) tidak familiar dengan laut dan mengira hidup beliau hanya mlekutek di gurun Arab yang tandus benar-benar kesimpulan yang sangat keliru. Apalagi kota-kota yang terbiasa menjadi tujuan saudagar Mekkah saat berniaga di Yaman, macam Mocha dan Aden adalah kota pantai tempat kapal-kapal dari India dan Persia berlabuh sekaligus tempat bertemunya sastra/budaya serta berbagai bidang keilmuan dari berbagai bangsa di kawasan tersebut.
Dan silahkan Anda tebak, di Arabia, lokasi gunung berapi bawah laut salah satunya memang berada di Laut Merah dekat kota Mocha di Yaman yang dimasa lalu biasa dikunjungi oleh Nabi Saw saat menjadi utusan dagang Khadijah. Bahkan belum lama ini juga, salah satu hotspot disana telah meletus dan menciptakan sebuah pulau baru.
https://nationalgeographic.grid.id/read/13281443/letusan-gunung-api-laut-merah-lahirkan-pulau-baru
![]() |
Titik Merah adalah pulau baru yang terbentuk dari letusan gunung berapi bawah laut di Laut Merah. Silahkan ketuk dan zoom photo untuk mendapatkan gambar yang lebih detail. |
Kenyataannya, Gunung api dasar laut sudah ada sejak jaman dahulu dan hingga hari ini di Arabia tepatnya pada beberapa titik di Laut Merah. Sebagai pengetahuan tambahan silahkan baca dan cermati informasi dari website Nasa ini dan ini; Peta Arabia.
2. Dua laut yang dikatakan bertemu tanpa saling menyatu. Itu menurut para saintis sesungguhnya hanyalah sebuah fenomena Halocline; yakni pemandangan dimana air laut tampak terpisah karena perbedaan warna air yang pertemuan arusnya membentuk semacam garis pembatas yang terjadi karena adanya perbedaan densitas (massa jenis) dan salinitas (tingkat keasinan air laut). Fenomena halocline sudah diketahui manusia sejak lama karena juga terjadi diberbagai negara. Di Indonesia, fenomena ini malah sudah biasa _dan hampir setiap hari_ terjadi di laut Suramadu (Selat Madura). Sehingganya sangat dimungkinkan fenomena demikian juga telah terjadi sejak lama pula di wilayah-wilayah lain disekitar jazirah Arab/Timur Tengah. Artinya, terkait dua klaim ini (api di dasar laut dan laut yang tak menyatu) disini Qur’an bisa dimaknai hanya sekedar menegaskan saja, bukan menyampaikan sebuah pengetahuan (sains) yang baru.
Penjelasan Ilmiah Fenomena Halocline di Selat Madura
![]() |
Fenomena Halocline di Laut Madura |
Untuk penjelasan lebih lanjut, Disini dan Disini.
4. Tentang Yves Cousteau sendiri; merunut pada dokumentasi penjelajahan yang pernah dilakukan Cousteau Foundation pada situs resminya http://www.cousteau.org malah tercatat belum pernah mengeksplorasi sumur kuno Cenote Angelita. Menurut beberapa catatan lain, yang beliau temukan adalah sebuah lokasi di Laut Atlantic dan Mediterania, yakni di teluk Aden tepatnya, dimana kedua lautan tersebut memang tidak bercampur tetapi bukan karena salinitas (asin/tawar-nya air) melainkan karena perbedaan suhu.
5. Yves Cousteau; yang diberbagai artikel dakwah serta di banyak Blog/website dikatakan masuk Islam setelah penemuan Cenote Angelita, melalui keluarga dan yayasannya membantah informasi tersebut. Cousteau meninggal tetap sebagai Kristen pada 25 Juni 1997, pada usianya yang ke-87. Dan disemayamkan di Katedral Notre Dame, Paris.
Dokumen bantahan keluarga dan yayasan Cousteau soal kemualafan Cousteau.
Kedua, Tentang tumbuhan yang bertasbih.
Dari link dimaksud dikatakan;
“Pada 1981, Journal of Plant Molecular Biologies mengungkapkan penelitian terkait suara halus yang dikeluarkan oleh tumbuhan yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia. Suara tersebut berulang lebih dari 1.000 kali setiap detiknya. Menggunakan teknologi yang canggih, suara itu pun akhirnya dapat dipahami dengan menyatakan lafaz kalimat tasbih. Seorang peneliti Muslim asal India ini kemudian mengatakan bahwa penelitian tersebut sesuai dengan Surat Al Isra ayat 44”.
Jadi, yang dikatakan ‘menggunakan teknologi yang canggih’ itu maksudnya yang seperti apa? Bagaimana prosesnya hingga akhirnya suara tersebut disimpulkan sebagai lafaz tasbih? Ini jenis penelitian dengan pendekatan apa, fisika-kimia atau geologikah? Peneliti muslim asal India ini siapa? Sejauh mana riset yang sudah dia lakukan dan apa saja pencapaiannya? Seberapa hebat kapasitasnya sebagai ilmuwan sehingga ia layak mendapatkan pengakuan komunitas sains internasional? Dan lain-lain seterusnya.
Akan tetapi karena saya yakin bahwa para Pembaca tidak merasa perlu bertanya sampai sejauh itu, maka untuk mempermudah semuanya, baiklah mari kita anggap saja bahwa memang seperti yang disampaikan di link berita itulah fakta - kebenarannya.
Lalu bagaimana?
Dengan mendapati fakta bahwa yang berhasil membuktikan kebenaran Qur’an ternyata malah para ilmuwan-ilmuwan Barat yang selama ini kita anggap sebagai kafir-sesat dan tidak diberi petunjuk itu, apakah yang demikian akan membuat kita bangga?
Problem baru lainnya adalah; jika kita menganggap hal-hal tersebut sebagai bukti kebenaran (baca: keajaiban) Quran yang dikatakan sesuai dengan sains modern lantas bagaimana kita mesti menjelaskan tentang berbagai fakta dan kontradiksi berikut ini :
1. Mayoritas
ulama salaf (yang tentu saja berdasar kajian Qur’an) mengklaim bahwa Bumi
adalah pusat dari semesta (geosentris) sementara sains modern meyakini
sebaliknya. Sains bersepakat bahwa planet2 termasuk bumi malah berpusat pada
matahari (heliosentris).
2. Qur’an mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling penting di Alam ini. Manusia adalah makhluk pilihan yang memang ditakdirkan untuk memimpin dan mengelola kehidupan. Sains tidak sependapat. Menurut sains manusia tiada beda dengan makluk hidup lainnya. Bahkan, menurut salah satu cabang dari Biologi yakni ilmu Taksonomi, manusia malah masuk dalam jenis hewan yakni dilingkup kingdom animalia (kerajaan binatang) dan dikenal sebagai “hewan yang berfikir”. Fakta sains lainnya, sekiranya umat manusia memusnahkan kehidupan di muka bumi ini lewat perang nuklir yang ganas atau melalui perusakan lingkungan nan parah misalnya, menurut sains alam semesta dan seluruh galaksinya akan tetap baik-baik saja. Artinya, dalam kacamata sains, kita ini engga penting-penting amat.
![]() |
| Renungilah gambar ini. Menurut sains, dalam skala galaksi, besar Bumi hanyalah seukuran pasir dan manusia tak lebih besar dari debu. Yakinkah Anda bahwa kita ini sedemikian pentingnya bagi semesta? |
3. Dalam Qur’an, Bumi dikatakan berbentuk datar (dihamparkan) seperti karpet, sains membuktikan bentuk bumi adalah bundar.
4. Dalam frasa Qur'an, Matahari dikatakan tenggelam di lumpur hitam. Sains menyatakan matahari tidak tenggelam, bumi kitalah yang beredar.
5. Menurut Qur’an, Bulan pernah terbelah, sains berkata tidak pernah.
6. Manusia berasal dari lempung (Qur'an), sains berpendapat berbeda.
7. Qur’an menyebut langit memiliki 7 tingkat (Qs. Albaqarah : 29 & Al-Mu’minun : 17). Dalam salah satu hadits dijelaskan bahwa saat Isra Mikraj, Rasulullah dibawa terbang kelangit dan singgah ke langit yang pertama. Langit yang pertama ini dikatakan terbuat dari perak murni dengan bintang-bintang yang digantungkan dengan rantai-rantai emas. Sementara sains mengangap “langit” itu hanya sebagai sebuah persepsi. Hanya sebuah istilah manusia untuk meyebut sebuah ruang udara yang berada jauh di atas kita. Menurut sains “langit” itu tidak ada, bukan sebuah bangunan apalagi yang sampai 7 tingkat.
8. Qur’an mengatakan fungsi Bintang adalah sebagai pelempar setan (Qs. Al-Mulk ayat 5). Sains punya pendapat berbeda. Sebagai catatan, Bintang ada yang berukuran lebih besar dari Bumi. Matahari juga termasuk bintang. Dan kalau bintangnya lebih besar dari bumi lalu setannya sebesar apa?
9. Tentang sumber fikiran buruk/jahat, sains mengatakan itu berasal dari reaksi kimiawi di otak, sedang menurut Quran asalnya adalah dari (pengaruh) setan.
10. Qur’an menjelaskan manusia dijadikan dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging (Qs. Al Hajj : 5 & Al-Mu’minun : 12-14). Banyak muslim yang menyebut ayat ini sebagai salah satu bukti kebenaran (keajaiban) Qur’an. Alasannya, mana mungkin seorang yang buta huruf seperti Nabi Muhammad yang hidup di gurun tandus dengan peradaban terbelakang 1.500 tahun lalu bisa tahu hal demikian jika bukan dari Tuhan.
Soal embriologi, sekilas bolehlah dikatakan Qur’an mempunyai kesesuaian dengan Sains. Akan tetapi berbeda dengan Qur’an yang tidak detail dan malah melebar dengan mengaitkan unsur tanah dalam proses penciptaan manusia, dalam hal ini sains memiliki teori serta gambaran fase yang lebih lengkap. Dan satu lagi, menurut sains dalam sebuah proses pembentukan janin, sperma bukanlah satu-satunya pemeran utama, melainkan juga ada satu unsur penentu yang dinamakan ovum (sel telur wanita), salah satu faktor terpenting yang pada saat itu belum diketahui manusia. Sehingganya, tak berlebihan jika dalam hal inipun, Qur'an bisa dikatakan hanya menegaskan sains/ilmu pengetahuan yang pada masa itu telah diketahui manusia seperti halnya klaim api didasar laut dan air laut yang tak menyatu.
Kemudian, lalu darimana Qur’an bisa mengetahui berbagai tahapan-tahapan di atas; seperti dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah dan dari segumpal daging? Apakah di jaman Qur'an diturunkan, yang demikian ini merupakan informasi yang sama sekali baru?
Disinilah penting dipahami, bahwa tekhnik embriologi dan pembedahan (anatomi) manusia (meski dalam teori & praktiknya yang lebih sederhana) itu sejatinya telah dikenal dan dilakukan manusia sejak ribuan tahun sebelum masehi sebagaimana yang dijelaskan dalam artikel ini atau ini dan terus berkembang seiring waktu. Tak jarang juga dari beberapa kisah, dalam berbagai konflik, ada orang-orang beringas yang tega membelah wanita hamil. Makanya, dari sudut pandang sains, Al-Hajj ayat 5 ini sesungguhnya tidak membuktikan fakta yang luarbiasa sebagaimana yang banyak diklaimkan oleh para agamawan.
Jadi sekali lagi, sebagaimana ayat-ayat sebelum-sebelumnya, ini menurut hamba hanyalah semacam penegasan atas sesuatu yang telah umum diketahui yang tujuannya bisa jadi sebagai peringatan dan agar kita menjadi lebih bersyukur. Sama halnya, seperti ketika Qur’an menegaskan tentang hujan es (Qs. An-Nur : 43), perhiasan dari (dalam) laut (Qs. An-Nahl : 14) dan adanya kebaikan pada madu (Qs. An-Nahl : 68-69) yang mana hal itu hanyalah sebuah penegasan saja bukan pengetahuan baru.
Hal demikian pun tak berbeda juga dengan redaksi pada surah Al-Anbiya ayat 33 yang berbunyi; "Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." Atau Qs. Yasin: 38; "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.", juga QS. Ya-Sin 36: Ayat 40;
"Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam (bulan) pun tidak dapat mendahului siang (matahari). Masing-masing beredar pada garis edarnya."
Banyak kalangan Muslim menganggap ayat-ayat ini juga sebagai keajaiban Qur’an berikutnya yang mereka katakan dikonfirmasi oleh sains modern. Alasannya sama sebagaimana yang telah dikemukakan di atas.
Padahal dengan pemikiran terbuka dan pembacaan sejarah dengan sedikit lebih detil saja, kita akan segera paham bahwa ini juga sesungguhnya hanya menegaskan apa yang telah tampak. Yakni sekedar menjelaskan sebuah fenomena yang sudah biasa dilihat dan diketahui oleh manusia di jaman tersebut. Tidak ada yang luarbiasa disini. Manusia melihat bahwa matahari dan bulan bergerak maka itulah yang dipahami. Malah, dari teks redaksi Qs. Yaa Sin ayat 40 itu, kita justru dapat mengetahui bahwa pandangan Qur'an tentang system tata surya adalah seperti pandangan dunia kuno sebelum abad ke-15, yakni Bumi sebagai pusat semesta. Berpangkal dari pandangan tersebut, mayoritas ulama salaf akhirnya lebih meyakini teori geosentris yang mana hal itu bertentangan dengan teori heliosentris yang diyakini otoritas sains sekarang, sebagaimana dijelaskan pada point 1. Dalam hal ini sains modern memiliki penjelasannya sendiri, yakni sesungguhnya yang beredar adalah Bumi yang kita tinggali, bukan Matahari-nya. Dan yang tentu penting diketahui bahwa ilmu astronomi (perbintangan) sudah dipelajari oleh manusia sejak lampau, bahkan sejak jaman Yunani kuno. Ini bukan pengetahuan baru diera Nabi Muhammad, sebab jauh sebelum beliau, filsuf-filsuf Yunani seperti Democretos, Aristoteles dan Epicurus dan juga kalangan terpelajar dari bangsa Persia sudah biasa mengamati Bintang dengan melakukan peneropongan.
11. Mayoritas Ahli sains meyakini bahwa manusia merupakan species dari ordo primata yang memiliki moyang yang sama (sekerabat) dengan kera (teori evolusi Darwin). Qur’an sebaliknya; menyebut bahwa moyang manusia adalah Adam yang terbuat dari tanah dan (ada) kera berasal dari manusia (Qs Al-Baqarah: 65 dan Qs Al-A'raf: 166). Tidak pernah ada penjelasan lebih lanjut, dari jenis kera yang mana dan dimana habitat hidup dari manusia kera yang terkutuk ini.
Pembahasan dasar tentang Teori Evolusi Darwin. Disini dan disini.
12. Dalam tradisi Islam (terutama dari Hadits), Adam adalah manusia pertama
dengan tinggi badan 60 hasta atau sekitar 30 meter yang mencapai umur seribu
tahun. Sains menolak klaim ini. Dalam sains, manusia dengan tinggi badan 30
meter tidak dimungkinkan untuk hidup di dunia yang keras dan tidak akan memiliki
umur yang panjang. Alasannya adalah adanya teori "Square Cube Law". Teori inilah yang menjawab pertanyaan "Mengapa fosil manusia purba yang ditemukan, dan setelah melalui tes karbon diketahui berusia 1-3 juta tahun, ukurannya tidak beda jauh dengan manusia sekarang". Penting difahami, didalam sains, yang disebut 'teori" itu bukan sekedar sebuah 'perkiraan tentang sesuatu yang belum pasti' seperti anggapan kita dalam keseharian, melainkan ia adalah sebuah hukum. Saya juga belum sepenuhnya memahami teori "Square Cube Law" ini, silahkan ikuti pembahasannya disini, atau diskusi seru di thread ini.
Serta beberapa point lainnya yang tidak perlu saya lanjutkan lagi. Yang pada intinya, tujuan utama dari tulisan tanggapan ini bukan untuk mensejajarkan apalagi menganggap sains benar dan Qur’an salah ataupun sebaliknya. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tidak penting lagi untuk menganggap/menyamakan kitab yang turun ribuan tahun yang lalu dengan sains di jaman ini. Karena dasarnya sudah berbeda dan kesimpulannya-pun tentu berbeda.
Kitab suci itu dasarnya Keyakinan (iman/faith),
bersifat mutlak benar, tetap - tak berubah dan anti revisi. Sedangkan sains bekerja berdasar keragu-raguan. Sains itu humble (rendah hati) dalam artian;
sains modern jujur bahwa mereka belum bisa menjelaskan segala hal, sains
berkata tidak tahu pada sesuatu yang memang mereka belum tahu dan mengakui
bahwa kebenaran yang saat ini mereka yakini-pun relatif. Maksudnya,
sesuatu yang hari ini terbukti/diyakini
oleh sains bisa jadi gugur apabila di kemudian hari ditemukan kesimpulan lain dengan bukti-bukti baru
yang lebih kuat.
Banyak ulama mengatakan bahwa fakta-fakta sains yang tidak sesuai dengan Qur’an itu hanya karena ahli sains belum mampu membuktikannya saja atau karena sains-nya yang salah. Ok, mari kita anggap saja pernyataan ini benar. Akan tetapi jika kita meyakini pendapat demikian, lalu bagimana jika nanti terjadi sebalikya; yakni fakta-fakta sains yang saat ini sekilas sesuai dengan ayat-ayat Qur’an tersebut berubah dimasa depan? Apakah lantas kita harus meragukan Qur’annya? Seharusnya tidak demikian bukan?
Menurut hamba cara yang paling bijak untuk bisa berdamai dengan hal tersebut adalah dengan memahami bahwa Al-Quran bukanlah kitab sains dan memang tidak diturunkan untuk itu. Adapun ayat-ayat qouliyah dalam Al-Quran yang sebagian menyinggung ayat-ayat kauniyah berupa fenomena alam, secara umum semestinya cukup dianggap sebagai motivasi untuk bersyukur serta bertadabur dengan mengamati bagaimana kebesaran dan kuasa Allah bekerja.
Mungkin ada dari Anda yang akan berkata; "Tetapi Qur'an juga luarbiasa ajaib karena mengandung berbagai rahasia angka yang berkesesuaian dan kode-kode yang fenomenal".
Maka hamba jawab; "Iya benar. Tapi apa gunanya itu? Kalaulah kita menghitung diameter kardus kulkas misalnya, dan menemukan hasil angka-angka yang berkesesuaian, apakah menjadikan kardus kulkas itu menjadi ajaib atau lebih bermanfaat?" Tidak juga bukan ??
Ohya, tentang Nabi Muhammad yang dikatakan sebagai seorang yang buta baca tulis, saya tidak tertarik untuk membahas lebih lanjut. Karena hal tersebut bertentangan dengan fakta-fakta sejarah. Yang saya ketahui Muhammad ibn Abdullah adalah seorang motivator handal, ulama, umara, penyair ulung, bisnismen, dan sekaligus sang perwira militer tangguh serta ahli strategi nan genius, meyakini beliau tidak bisa calistung bagiku adalah hal irrasional. Kalau Anda berpendapat sebaliknya, maka silahkan dan hiduplah dalam hayalan Anda tersebut.
***
Kitab Suci dan Sains masing-masing berangkat dari dasar pemahaman yang berbeda. Kitab suci berdasarkan keyakinan dan kebenaran absolut sementara sains berdasarkan keraguan (skeptisisme), penelitian, dan uji coba berulang-ulang, kemudian dari pengujian berulang inilah, para saintis memperhatikan hasilnya, jika tetap sama maka itulah yang disebut sebagai fakta sains. Namun dalam sains, yang disebut fakta-pun kemungkinan akan berubah seiring bertumbuhnya pengetahuan manusia. Sebab basis dari sains adalah akal sehat, bukan kepercayaan buta semata. Inilah kenapa Kitab suci tidak bisa disebut sebagai kitab sains karena tidak memenuhi standar ilmiah dan sains-pun tidak bisa dianggap sebagai keyakinan/agama oleh karena sains tak pernah peduli dengan yang namanya moral baik atau buruk. Karenanya, memaksa diri untuk menyamakan kitab suci dengan kitab sains sangat riskan sekali mengikis peran utama dari kitab suci sebagai media penyampai pesan moral-kebaikan.
***
Jika kita cermati, sebenarnya Sains bermula dari ketakjuban manusia akan alam semesta. Dari ketakjuban itulah lalu manusia melakukan eksplorasi dan penyelidikan. Hanya saja proses sains tidak berhenti di fase ini. Ada proses selanjutnya yang membutuhkan uji ide, sekaligus meminta respons dari Komunitas Sains entah tanggapan atau analisis. Dari tanggapan kembali lagi ke uji ide yang lalu menghasilkan output berupa pemecahan masalah atau pemanfaatan hasil penelitian. Dari sana kerja sains kembali lagi ke awal yakni eksplorasi dan discovery. Begitu seterusnya berulang-ulang tidak ada habisnya. Untuk sampai pada sebuah kesimpulan, terkait fenomena alam misalnya, Sains memerlukan sebuah proses panjang (pembuktian) yang berulang. Bukan sesederhana klaim agama, yang teorinya jika A maka B.
Sangat disayangkan memang, dimasa sekarang dimana bangsa-bangsa lain sedang terus bergerak maju; gencar berkompetisi dalam bidang sains dan tekhnologi yang real hingga penyelidikan semesta, dikalangan muslim malah terjadi semacam trend mundur dengan mengagung-agungkan romantisme ke-emasan Islam masalalu, mendalami ilmu cocokologi alias teori gotak gatik gatuk dan dengan enteng comot ayat ini-itu untuk dasar klaim sana-sini, hingga pada akhirnya mentok memamerkan apa yang mereka katakan sebagai “Ilmuwan Islam”.
Abbas bin Firnas misalnya. Seorang Tokoh Muslim cukup dikenal yang kebetulan belakangan ini pembahasan tentangnya sering muncul di film Riko The Series (besutan seorang wahabi mantan artis bernama Teuku Wisnu) yang diputar bolak-balik dan biasa ditonton oleh anak-anak saya. Dikatakan di berbagai artikel dakwah Islam dan dalam film serial tivi Riko tersebut bahwa Abbas bin Firnas adalah Bapak Kedirgantaraan; sang penemu pesawat terbang.
https://id.wikipedia.org/wiki/Riko_the_Series
Bagi saya pribadi, hal semacam ini bukanlah suatu upaya pencerdasan melainkan suatu jenis pembodohan karena melenakan anak-anak kita terhadap kebenaran dari fakta yang utuh. Suatu penyederhanan luarbiasa dari sebuah kenyataan yang panjang dan rumit. Mari saya jelaskan alasannya.
Anggaplah benar, bahwa untuk (sekedar) prototype ‘alat’ untuk terbang, Abbas bin Firnas memang sudah membuatnya, sebagaimana prototype helikopter dan berbagai mesin aneh rancangan Leonardo da Vinci. Namun, keinginan manusia untuk terbang bukan dimulai pertamakali oleh Abbas bin Firnas yang terbang dengan Glider dan patah tulang punggung di Andalusia pada tahun 880-an itu, tetapi sudah sejak ribuan tahun sebelumnya saat manusia mengamati burung dan pada sekitar 400 tahun sebelum masehi saat orang China menemukan layangan. Beberapa catatan juga mengkonfirmasi bahwa glider bahkan sudah ada di jaman Yunani pra-Islam meski dalam bentuknya yang lebih sederhana. Penting dipahami bahwa Glider dimasa Ibnu Firnas hanyalah semacam alat terbang sederhana dari kayu, kain dan bulu-bulu burung elang yang dirakit sedemikian rupa. Dengan demikian, rancangan tersebut bukanlah alat yang secara efektif bisa dikatakan berguna untuk terbang, dan sulit dikatakan sebagai induk dari semua pesawat terbang saat ini. Sebab, pesawat terbang sekarang, matang atas berbagai macam temuan lainnya, seperti teknologi mesin bakar, ketepatan desain, pengolahan besi, dan pengetahuan aerodinamika (sistem aviasi) yang begitu kompleks yang sama sekali belum dikenal di era para perancang awal tersebut.
![]() |
Monumen Abbas bin Firnas di Baghdad, Iraq. |
Sebab, andai kita memaksakan terminologi demikian, misalnya untuk istilah 'ilmuwan Islam' tersebut, ia akan tertolak minimal oleh 2 (dua) alasan.
- Seperti yang saya sampaikan pada paragraf sebelumnya. Bahwa sebuah sains baru adalah pelengkap dan penyempurna dari sains-sains sebelumnya. Sebagaimana mahfum diketahui, dimasa lalu tepatnya di masa ke-emasan Abbasiyah, sarjana-sarjana Muslim di Bayt Al-Hikma adalah yang paling getol dalam penerjemahan berbagai kitab filsafat/sains dari perbagai peradaban kuno seperti Yunani, India dan Persia ke bahasa Arab. Dan ini bukan kerja yang remeh, sebab dari situlah, filsafat dan sains kuno bisa diselamatkan dan terus dikembangkan hingga mampu seperti saat ini. Bahkan menurut saya bukan berlebihan bila dikatakan bahwa Bayt al-Hikma adalah jembatan antara sains kuno dan sains Barat modern, sebab bangsa Barat memang mengakui menerjemahkan banyak kitab-kitab sains dunia kuno yang berbahasa Arab menjelang Renaisance. Ini bermakna, Sains adalah semacam hasil kerja bersama seluruh umat manusia dari masa kemasa dengan latar belakang budaya-bangsa dan agama yang berbeda. Karenanya tidak ada satu pihakpun yang berhak mengklaim sains.
- Figur-figur yang selama ini dengan lantang kita klaim sebagai Ilmuwan Islam tersebut, mayoritas adalah tokoh yang lahir jauh dari pusat Islam seperti Mekah atau Madinah dengan akidah ke-Islaman yang banyak diperdebatkan. Sebagian meyakini mereka Sunni, ada yang percaya mereka Syiah (merujuk pada ke-persia-annya), ada yang percaya jika mereka sebenarnya masih meyakini agama lamanya (Zoroaster) dan ada pula yang menyebut mereka itu tokoh zindiq atau atheis. Contohnya; Al-Khawaritzmi, Al-Jabar, Ibnu Rusyid, Ibnu Sina (di Barat disebut Avicena) dan Al Farabi (seorang filsuf, ilmuwan dan seniman yang mahir memainkan berbagai alat musik). Dua nama yang disebut terakhir bahkan pernah dikafirkan oleh Al-Ghazali (seorang tokoh utama muslim sunni) karena pemikiran-pemikiran filsafat mereka yang dia anggap sesat. Sebagai informasi tambahan, Persia memang dikenal sebagai bangsa terpelajar dan berbudaya maju, terutama di bidang arsitektur, bahkan sejak jauh sebelum mereka mengenal Islam yang datang kesana melalui penaklukan bersenjata. Dimasa sekarang, bangsa Persia (Iran) adalah satu-satunya negara muslim yang paling maju di bidang iptek. Boleh dibilang, gen kejeniusan sudah ada di dalam DNA mereka.
***
Sebagai penutup, jika kita mau mecermati dan berfikir lebih luas, ayat-ayat Al Quran yang bernarasi tentang fenomena alam itu bisa jadi bukan dimaksudkan dalam konteks untuk menjelaskan fenomena yang berkaitan dalam perspektif ilmiah (sistematis, logis, dan faktual) layaknya sains modern yang kita kenal sekarang. Tetapi diceritakan dalam tujuannya memberi peringatan dan/atau perintah agar manusia berpikir dan merenung lebih dalam tentang keberadaan, status, dan peranannya di muka bumi.
Namun di atas semuanya, saya tetap ingin menegaskan kembali tentang ketakjuban saya atas "kesempurnaan" Al-Qur'an, yakni bila di lihat dari segi ketinggian sastra-bahasanya, dari pesan-pesan moral yang sedemikian kuat dan dari pengaruhnya yang luarbiasa terhadap manusia serta kemanusiaannya.
Wallahu’alam...
Epilog ;
1. Prof. Dr. Muhammad Bazmul (seorang Guru Besar di Universitas Ummul Qura - Mekkah), konon pernah berkata, “Kita bisa saja menebak-nebak bahwa hasil temuan ilmu pengetahuan modern tertentu mengkonfirmasi (membuktikan kebenaran) dari ayat Al Quran tertentu, akan tetapi menyibukkan diri dengan mencocok-cocokkan sebuah ayat dengan temuan sains tertentu _apalagi dalam bentuk pemastian_ bahwa memang itulah yang dimaksud oleh Allah dalam ayat tersebut, merupakan tindakan lancang karena berbicara atas nama Allah pada perkara yang Dia (Allah Swt.) tidak menurunkan keterangan sedikitpun tentangnya”.
2. Kenyataannya, ada satu fakta yang tak dapat dibantah, bahwa rujukan utama untuk memahami semesta tidak lain adalah semesta itu sendiri.
3. Dan, “Klaim-klaim yang luarbiasa, membutuhkan bukti yang luarbiasa (pula)”. (Carl Sagan)
Miftahuddin al-Jalali, Margajaya, Agustus 2022.
(Terima kasih kepada Guru-guruku; Buya Syafi'i, Gus Dur, Harun Judianto dan Himawan Pridityo)







